Dua kiai menegaskan kerusakan hutan dan tambang ilegal menjadi akar bencana banjir Sumatera.
KOSONGSATU.ID—Dua kiai Nahdlatul Ulama, KH Abdurrahman Al Kautsar atau Gus Kautsar, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, dan KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, Pengasuh Ponpes LP3IA, Narukan, Rembang, mengkritik keras praktik pembalakan liar dan eksploitasi alam—yang disebut sebagai pemicu utama banjir besar di Sumatera.
Ratusan nyawa melayang akibat bencana pada akhir November 2025, dan para kiai menyebut kerusakan hutan sebagai faktor kunci yang memperparah dampaknya.
Kritik Gus Kautsar: “Kerusakan ini bukan murni fenomena alam”
Gus Kautsar menegaskan bencana tersebut tidak berdiri sendiri. Ia menyebut banjir yang melanda berbagai daerah di Sumatera merupakan buah dari kerakusan manusia.
Pesan itu ia sampaikan dalam pengajian rutin Teras Gubuk, dikutip Kamis (4/12/2025).
“Banyaknya pembalakan liar, pengerukan tambang ilegal, dan pemotongan pohon tanpa aturan membuat saudara-saudara kita menerima dampaknya. Hutan-hutan dihabisi tanpa memikirkan keamanan alam dan lingkungan,” ujarnya.

Ia menegaskan, tindakan merusak alam adalah pelanggaran prinsip dasar Islam. Seorang Muslim, katanya, harus mampu menghadirkan rasa aman bagi sesama, bukan justru membawa kerusakan.
“Semua kehancuran di darat dan laut yang kita lihat hari ini karena perbuatan kita sendiri. Dampaknya dirasakan supaya kita sadar bahwa apa yang dilakukan benar-benar luar biasa merusak,” lanjutnya.
Gus Kautsar menyebut kerakusan sebagai akar seluruh bencana. Ia mengutip Sahabat Ali yang menyatakan bahwa sifat rakus adalah sumber keburukan.
“Siapapun yang merasa nyaman mengambil hak orang lain, merusak hutan, atau menguasai yang bukan miliknya, berarti ia sedang meniru watak iblis,” tegasnya.
Ia juga menyinggung ketidakadilan ekologis. Pelaku pembalakan liar mungkin duduk santai menikmati kopi, sementara masyarakat luas menanggung bencana. Karena itu, ia menyerukan “tobat ekologis” sebagai sikap moral kolektif untuk menghentikan kerusakan dan memulihkan hubungan manusia dengan alam.
Menurutnya, pemerintah harus bergerak cepat dengan reboisasi besar-besaran. “Moga-moga pemerintah benar-benar segera melakukan penghijauan kembali. Reboisasi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.





Tinggalkan Balasan