Keris bukan jimat. Bukan juga berhala. Tapi mengapa menyimpannya masih dianggap syirik oleh sebagian orang?
KOSONGSATU.ID — Sebilah keris tidak pernah meminta untuk disembah. Tapi entah mengapa, benda ini sudah lama terseret ke dalam tuduhan yang belum tentu adil.
Dari Bunyi ke Makna
Secara etimologi, kata keris diyakini berasal dari kres — sebuah onomatope yang meniru bunyi senjata tikam saat dihunus atau ditusukkan. Istilah ini tercatat dalam prasasti-prasasti kuno Nusantara, salah satunya Prasasti Karang Tengah yang berangka tahun 746 Saka atau 824 Masehi.
Prasasti itu sendiri adalah artefak batu — bukan perunggu seperti yang kerap beredar. Terpecah menjadi lima penggalan, prasasti ini kini disimpan di Museum Nasional Indonesia. Dari bunyi logam yang berdesing, lahirlah sebuah kata yang kemudian menanggung banyak beban makna.
Seiring waktu, keris naik derajat jauh melampaui fungsinya sebagai senjata. Ia menjadi tosan aji — besi yang dihormati — sebuah objek yang merekam doa, filosofi, dan ketelitian spiritual para empu yang menempa.
Filosofi yang Tertanam di Bilah
Dalam kosmologi Jawa, hubungan antara bilah keris dan warangka (sarungnya) bukan sekadar urusan teknis. Ia adalah visualisasi dari konsep Manunggaling Kawula Gusti — kedekatan manusia dengan Tuhannya yang tak berbatas jarak.
Keris lurus melambangkan tekad yang fokus dan bulat. Keris luk (berkelok) merepresentasikan keluwesan menghadapi liku hidup — lentur, namun tidak kehilangan kendali. Posisi keris yang diselipkan di punggung belakang pun bukan tanpa pesan: jangan pamerkan kekuatan. Kekuatan sejati tidak perlu ditampilkan.
Jamasan: Ritual yang Ternyata Masuk Akal Secara Kimia
Tradisi jamasan — mencuci keris di bulan Sura atau Muharram — sering dibaca sebagai praktik mistis. Padahal, di balik ritualnya, ada logika perawatan logam yang solid.
Salah satu bahan utama dalam jamasan adalah warangan: larutan kimia dari campuran jeruk nipis dan serbuk batu warang yang mengandung arsenik. Kandungan asam dalam campuran ini berfungsi melarutkan kotoran yang menempel pada permukaan bilah, sekaligus mempertahankan kilap dan pola pamor agar tidak berkarat. Ini bukan ritual sembarangan. Ini adalah teknik konservasi logam yang diwariskan secara turun-temurun, jauh sebelum ilmu kimia modern memberinya nama.
Empat Tingkat Keyakinan: Di Mana Batas Syirik?
Tuduhan syirik terhadap pemilik keris bukan hal baru. Tapi tuduhan itu butuh landasan yang lebih teliti dari sekadar asosiasi.
Syaikh Ibrahim Al-Bajuri (wafat 1860 M) dalam kitab Tuhfatul Murid Syarh Jauharah At-Tauhid (hlm. 58) memetakan empat tipe keyakinan manusia terhadap kekuatan sebuah benda. Pertama, kafir: jika meyakini keris berkuasa sendiri, lepas dari kehendak Allah. Kedua, fasik: jika menganggap kekuatan gaib itu titipan permanen Allah di dalam benda.
Ketiga, jahil: jika meyakini benda itu tak mungkin gagal karena hukum sebab-akibat yang mutlak. Keempat — dan inilah posisi yang selamat — mukmin: jika memahami keris hanya sebagai jalan biasa (sunnatullah) yang seluruh kekuatannya murni atas kehendak Allah, dan bisa dicabut kapan pun.
Selama keris dirawat sebagai koleksi, diapresiasi sejarahnya, dan tidak dipuja sebagai sumber manfaat atau mudarat di luar ketetapan-Nya, ia bersih dari syirik.
Analogi yang Menohok dari Gus Baha
KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) pernah menyinggung soal ini dalam salah satu ceramahnya. Ia membandingkan orang Jawa tempo dulu yang tidak nyaman tanpa membawa keris dengan orang kota modern yang tidak nyaman tanpa ponsel atau kartu ATM.
Kira-kira begini logika Gus Baha: “Kalau orang membawa keris menjadi syirik karena percaya sama makhluk, orang Kejawen tidak nyaman tanpa keris — lalu orang kota kalau tidak membawa ATM juga tidak nyaman. Itu tidak dihukumi syirik? Kamu pergi lupa bawa HP, nyaman tidak? Kenapa tidak dihukumi syirik?”
Menurut Gus Baha, syirik itu ada di dalam hati — dan tidak ada yang bisa menghakimi isi hati orang lain hanya dari benda yang dibawanya. Syirik baru benar-benar terjadi ketika seseorang memindahkan sifat rububiyah atau uluhiyyah — hak mengatur nasib dan hak disembah — dari Allah kepada sebilah besi.
Keris sejati, seperti kata pepatah lama, memang bersemayam di dalam akal budi kita sendiri. Rawat pusakamu. Lebih penting lagi, rawat cara berpikirmu tentangnya.***
DAFTAR RUJUKAN
Sumber Primer — Teks Keagamaan & Kitab Klasik
- Al-Bajuri, Ibrahim ibn Muhammad ibn Ahmad. (w. 1860 M). Tuhfatul Murid Syarh Jauharah At-Tauhid (hlm. 58). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.
Sumber Sekunder — Buku & Ensiklopedia
- Harsrinuksmo, Bambang. (2008). Ensiklopedi Keris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sumber Tersier — Media & Portal Daring Terverifikasi
- BincangSyariah.com. (2020, 10 Agustus). Hukum meyakini kesaktian keris. https://bincangsyariah.com/kolom/hukum-meyakini-kesaktian-keris/
- Detik Jatim. (2024, 5 Juli). Apa itu ritual jamasan pusaka? Ini prosesinya. https://www.detik.com/jatim/budaya/d-7424883/apa-itu-ritual-jamasan-pusaka-ini-prosesinya
- Islami.co. (2022, 15 Maret). Gus Baha: Orang, kok, mudah sekali menuduh syirik! https://islami.co/gus-baha-orang-kok-mudah-sekali-menuduh-syirik/
- Iqra.id. (2023, 25 Juni). Gus Baha jelaskan anggapan tentang ‘orang Kejawen membawa keris itu syirik’. https://iqra.id/gus-baha-jelaskan-anggapan-tentang-orang-kejawen-membawa-keris-itu-syirik/
- Kompas.com. (2022, 2 Desember). Prasasti Kayumwungan: Lokasi penemuan dan isinya. https://www.kompas.com/stori/read/2022/12/02/120000279/prasasti-kayumwungan–lokasi-penemuan-dan-isinya
- Liputan6.com. (2024, 20 Juli). Penjelasan menohok Gus Baha bagi orang yang anggap bawa keris adalah syirik. https://www.liputan6.com/islami/read/5648058/penjelasan-menohok-gus-baha-bagi-orang-yang-anggap-bawa-keris-adalah-syirik
- MariNews Mahkamah Agung RI. (t.t.). Refleksi keadilan dalam bilah Keris Sepang. https://marinews.mahkamahagung.go.id/serba-serbi/refleksi-keadilan-dalam-bilah-keris-sepang-0hB
- NU Online. (2025, 3 November). Jamasan pusaka berdasarkan kitab kimia dan Hayatul Hayawan. https://www.nu.or.id/kesehatan/jamasan-pusaka-berdasarkan-kitab-kimia-dan-hayatul-hayawan-VF5Pq
- Wikipedia bahasa Indonesia. (2026, 4 April). Prasasti Kayumwungan. https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Kayumwungan





Tinggalkan Balasan