Sumatera Barat: Ketika Hulu Menyerah

Di Sumbar, hujan ekstrem hanyalah pemantik untuk sebuah ledakan yang sudah lama menunggu giliran. Tommy Adam dari Walhi Sumbar menyebutnya tegas: “Ini bencana ekologis, bukan bencana alam,” (29/11). Banjir yang menerjang kota dan kabupaten membawa bukti paling telanjang: tunggul-tunggul kayu besar yang hanyut bersama arus.

Dalam dua dekade terakhir, Sumbar kehilangan 740 ribu hektare tutupan pohon—angka yang tak sekadar statistik, tetapi refleksi dari hulu yang menganga. Kota Padang sendiri kehilangan 3.400 hektare hutan, terutama di punggung Bukit Barisan. DAS Aia Dingin, benteng alami kota, tergerus 780 hektare dalam 23 tahun. Ketika dinding ekologis itu runtuh, air mengambil alih perannya.

“Data sudah ada, peta rawan bencana ada, tapi tidak pernah dijadikan dasar keputusan,” ujar Tommy. Ia menegaskan bahwa yang absen bukanlah instrumen, melainkan kemauan.

Negara dan Hutan yang Semakin Tipis

Walhi menyoroti ironi yang sulit diabaikan: dalam APBN 2025, pendapatan negara dari sektor sumber daya alam lebih rendah dari penerimaan cukai rokok. Hutan tampak seperti barang murah, sementara bencana menjadi ongkos yang dibayar masyarakat.

Seruan mereka jelas. Pemerintah harus menghentikan izin ekstraktif di hulu, menegakkan RTRW yang menuntut minimal 30 persen kawasan hutan, mengedepankan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam perizinan, dan menurunkan Satgas Penyelamatan Kawasan Hutan langsung ke lapangan.

Langkah darurat tak lagi cukup. Yang dibutuhkan adalah perubahan arah.

Ketika Air Menyampaikan Pesan yang Tak Lagi Halus

Banjir bandang yang merendam Aceh, Sumut, dan Sumbar bukan sekadar cerita tentang hujan ekstrem. Ia adalah pengingat keras bahwa perubahan iklim mempercepat kerusakan yang sudah dibuat manusia sendiri. Ia adalah suara hulu yang diabaikan terlalu lama.

Di antara kayu-kayu besar yang terdampar di tepi sungai, ada pesan yang tak lagi halus: alam telah memanggil. Pertanyaannya kini—apakah negara akan mendengarnya, atau membiarkan air menjadi juru bicara yang semakin ganas?***