Narasi Xpose Trans7 yang menyindir santri “rela ngesot” dan mencium tangan kiai dianggap melecehkan tradisi ta’dzim. Padahal, hadits-hadits sahih justru menegaskan teladan serupa dari para sahabat Nabi.
KOSONGSATU.ID—Tayangan Xpose Uncensored Trans7 kembali menuai kecaman. Dalam salah satu episodenya, narasi yang menyebut santri “rela ngesot”, berjalan menunduk, dan mencium tangan kiai dinilai melecehkan tradisi ta’dzim—penghormatan murid kepada guru dalam kultur pesantren.
Publik menilai gaya sinis tayangan itu tidak hanya menyinggung simbol penghormatan santri kepada kiai, tetapi juga mengabaikan akar keilmuan Islam. Sebagian pihak bahkan bertanya sinis: apakah perilaku seperti itu memang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya?
Jika mau menelusuri hadits-hadits sahih, jejak praktik penghormatan serupa ternyata tercatat jelas. Dalam Sunan Abu Daud (3/357), diriwayatkan bahwa sekelompok delegasi dari suku Abdil Qais, saat tiba di Madinah, turun dari kendaraan lalu mencium tangan dan kaki Rasulullah Saw.
Riwayat lain dalam kitab yang sama (3/46) menceritakan Abdullah bin Umar yang mencium tangan Nabi setelah kembali dari pasukan pengintai.
Tradisi ini juga hidup di kalangan sahabat. Ibnu Abbas pernah menuntun hewan tunggangan gurunya, Zaid bin Tsabit, yang kemudian menolak dan justru mencium tangan muridnya itu. “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ahli bait Nabi,” ujar Zaid, seperti tercatat dalam Tarikh Dimasyqi karya Ibnu Asakir (19/326).
Ali bin Abi Thalib bahkan diriwayatkan mencium tangan dan kaki pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib. “Wahai pamanku, berikanlah keridhaan kepadaku,” katanya, sebagaimana disebut dalam Kitab al-Adabul Mufrad (hal. 339).
Teladan ini berlanjut hingga generasi ulama. Imam Muslim pernah memohon izin mencium kaki gurunya, Imam Bukhari. “Biarkan saya mencium kakimu, wahai gurunya para guru,” katanya, dikutip oleh ad-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ (10/100).
Sejumlah ulama besar juga menegaskan kebolehan adab tersebut. Imam al-Nawawi dalam Al-Majmu’ menyebut, mencium tangan karena ilmu dan kebaikan adalah amalan yang dianjurkan.
Pandangan senada dikemukakan oleh al-Bajuri dalam Hasyiah (juz 2, hal. 116) dan al-Zaila’i yang menegaskan kebolehannya sebagai bentuk mencari keberkahan.
Bahkan ulama yang menjadi rujukan kaum Wahabi, Syekh Utsaimin, juga menyatakan hal serupa. Dalam Syarah Riyadh as-Shalihin (4/451), ia menulis bahwa mencium tangan atau kaki seseorang karena kemuliaannya, seperti orang tua atau guru, merupakan bentuk tawadhu’—kerendahan hati yang terpuji.
Rangkaian riwayat ini menunjukkan bahwa tradisi mencium tangan bukan bentuk feodalisme, melainkan ekspresi penghormatan spiritual yang berakar dari Sunnah Nabi.
Masih menganggap ajaran ini kuno dan tidak rasional? Mungkin referensinya perlu ditambah.***





0 Komentar