Dalam sepekan, pembangunan Rumah Syukur Shiddiqiyyah Fatchan Mubiina mencatat cerita berbeda di tiap zona: Bojonegoro melesat capai atap, Cirebon separuh jalan, sementara Banten agak lambat tapi penuh solidaritas.
KOSONGSATU.ID—Progres pembangunan Rumah Syukur Shiddiqiyyah Fatchan Mubiina (RSLHSFM) menghadirkan kontras menarik.
Dari Zona 1 (Jawa Timur–Bali), Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) Bojonegoro melesat jauh di depan. Dari tiga rumah yang mereka bangun, sebagian besar sudah mencapai tahap pemasangan atap genteng pada hari keenam.
Padahal, standar resmi hari ke-6 hanya menargetkan bangunan sampai cor ring dan plester dinding—atau secara teknis baru di angka 26 persen. Namun, Bojonegoro memilih strategi berbeda: mendahulukan rangka dan atap agar pekerja punya naungan saat mengerjakan interior.
“Dengan disiplin kerja dan strategi tepat, target penyelesaian 21 hari optimis bisa tercapai,” ujar Lukman dari Departemen Pembangunan Zona 1, Jumat (26/9).
Namun capaian di Zona 1 belum merata. Di Blitar, rumah penerima bernama Kurniawan baru tergarap 15,6 persen. Di Jombang, rata-rata masih di kisaran 12–15 persen.
Bahkan ada titik stagnan seperti rumah Kusnadi (10,5 persen) dan Purwaningsih (11,4 persen). Kasus serupa tampak di Lamongan, Nganjuk, hingga Malang Raya yang tertinggal sekitar delapan poin dari target.

Spirit Gotong Royong di Zona 3
Berbeda dari Zona 1, laporan Zona 3 (Jakarta, Jawa Barat, Banten) menunjukkan progres rata-rata di bawah 20 persen.
Beberapa titik relatif lebih baik, seperti rumah Sanusi di Jakarta Selatan (20 persen) dan rumah Rokiyah di Bekasi (20 persen). Namun sebagian besar masih lambat, bahkan ada yang stagnan di angka 0 persen seperti rumah Masiah (Jakarta Barat) atau Yayan Suryana (Bandung Barat).
Cirebon menjadi pengecualian. Di sana, progres rumah Saepudin sudah mencapai sekitar 50 persen, dengan tahapan pemasangan hebel.
“Gotong royong, tenggang rasa, budi pekerti luhur harus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman,” kata Edi Rasyidi, penanggung jawab pembangunan di Cirebon.
Sementara itu, di Banten—tepatnya Kampung Gunung Kepuh, Desa Winong, Kecamatan Mancak, Kabupaten Lebak—pembangunan rumah syukur baru sampai 20 persen, berupa pemasangan kusen pintu, jendela, dan naik hebel. Meski angka progres tak setinggi Bojonegoro atau Cirebon, atmosfer gotong royong justru terasa kuat.

“Warga selalu siap jadi relawan. Bahkan anak-anak ikut membantu angkut material. Dukungan kepala desa juga sangat berarti, karena pembangunan dikawal hingga tuntas,” ujar salah satu panitia lokal.

Makna Sejati Pembangunan
Meski tiap zona punya capaian fisik berbeda, spirit yang menyatukan tetap sama: membangun rumah bukan sekadar mendirikan dinding dan atap, melainkan juga meneguhkan kembali rasa kebersamaan. Di situlah, menurut para penggerak Rumah Syukur, makna sejati pembangunan ditemukan.***




Tinggalkan Balasan