Di Tasikmalaya, rumah baru memberi Komariah rasa aman yang lama hilang.

KOSONGSATU.ID—Di Kampung Waru Jajar, Tawang Banteng, Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, ketenangan itu akhirnya datang. Komariah (78) kini bisa menutup pintu rumahnya tanpa cemas bocor atau dinding rapuh—sebuah kemewahan sederhana setelah puluhan tahun bertahan.

Hunian layak tersebut diserahkan melalui Program Rumah Syukur TSP 97 yang dijalankan Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME), Minggu, 21 Desember 2025. Rumah lama Komariah berdiri sejak 1983 dan kerap diperbaiki seadanya. Bocor berpindah-pindah, rasa aman tak pernah benar-benar ada.

Penyerahan rumah ini menjadi mata rantai terbaru dari santunan nasional Rumah Syukur Layak Huni. Sebelumnya, program serupa dirampungkan untuk keluarga lain di Mangkubumi. Di dua kampung berbeda, pesan yang sama berulang: kepedulian yang dikerjakan tekun mampu mengubah hari-hari seseorang.

Dari Prosesi Sederhana ke Arti yang Dalam

Tasyakuran berlangsung khidmat. Unsur Muspika hadir bersama tokoh masyarakat dan warga sekitar. Lantunan hadrah mengiringi prosesi, pelan dan mengendap. Di sela acara, santunan bagi anak yatim turut dibagikan—menegaskan bahwa rumah ini bukan sekadar bangunan, melainkan jaring pengaman sosial.

Jajaran Muspika dan pengurus OPSHID FKYME selepas penyerahan RSLHSFM. – DPD OPSHID Tasikmalaya

Momentum kegiatan disandingkan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda dan hari lahir Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ke-97. Nasionalisme dihadirkan bukan lewat pidato panjang, melainkan melalui kerja yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Ketua OPSHID Tasikmalaya, Riswanto, menyebut dua unit Rumah Syukur telah terbangun di wilayahnya. Secara nasional, total mencapai 97 unit—angka simbolik yang merujuk usia Indonesia Raya. “Ini bangun baru dari pondasi. Partisipasi warga menjadi kuncinya,” ujarnya.

Ketika Anggaran Menjadi Kerja Kolektif

Program Santunan Nasional Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubina Tasikmalaya telah membangun lima unit rumah, dengan rata-rata anggaran sekitar Rp100 juta per unit. Angka itu mencerminkan gotong royong, bukan proyek instan.

Dukungan juga datang dari aparat setempat. Danramil Sukaratu menambahkan sebuah springbed untuk Komariah—detail kecil yang melengkapi arti rumah layak. Camat Sukaratu, Wawan S. Sos., menilai program ini membantu pemerintah daerah mengatasi rumah tidak layak huni yang belum tertangani sepenuhnya.

Tenang Tanpa Bocor

Bagi Komariah, maknanya sederhana. “Dulu ditutup di satu tempat berarti bocor di tempat lain,” katanya lirih. “Sekarang bebas bocor, membuat tenang.”

Di kampung kecil Tasikmalaya, Sumpah Pemuda menjelma nyata: bukan di panggung besar, melainkan pada pondasi rumah yang kokoh—memberi rasa aman bagi seseorang yang lama menunggunya.***