Tiga keluarga di Surabaya menerima bantuan rumah layak huni dari OPSHID lewat program Rumah Syukur Shiddiqiyyah. Dari rumah mirip gudang, gedek pengap, hingga rumah veteran roboh, kini mereka bisa bernapas lega.

KOSONGSATU.ID — Hidup di kota besar tak selalu berarti punya rumah yang nyaman. Hal itu dialami Mardianto (50), Sudarni (63), dan Sri Winarti (54). Tiga warga Surabaya ini selama bertahun-tahun tinggal di rumah tak layak huni.

Kini, berkat program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubina (RSLHSFM) yang digerakkan Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) Front Ketuhanan Yang Maha Esa, mereka bisa menata harapan baru.

Rumah Mirip Gudang di Wiyung

Mardianto, karyawan swasta dan bapak dua anak, sehari-hari memilih ngekos di Ngagel agar dekat kantor. Bukan karena tak punya rumah, melainkan rumah warisan orang tuanya di Jajar Tunggal, Wiyung, sudah tak layak ditinggali.

Bangunan itu lebih mirip gudang: gelap, lembab, penuh barang tak terurus. “Kalau ditinggali, bukannya sehat malah sakit,” ujar Choi, Sekretaris OPSHID Surabaya.

Rumah Mardianto sebelum dibangun, yang mirip gudang. – OPSHID SURABAYA

Kondisi inilah yang membuat Mardianto dipilih sebagai penerima.

Rumah Pengap di Balongsari

Berbeda dengan Mardianto, Sudarni (63) tinggal di Balongsari bersama anak, menantu, dan cucu. Putrinya sehari-hari menjaga lapak gorengan milik tetangga, penghasilan yang pas-pasan untuk satu keluarga. Rumah mereka pengap, lembab, dan dikelilingi pemukiman padat.

Atap rendah membuat sirkulasi udara terhambat.

“Bisa dibayangkan sendiri rasanya,” kata Choi.

Sudarni dan putrinya (kiri), serta kondisi rumah mereka sebelum dibongkar untuk dibangun ulang. – OPSHID SURABAYA

Namun, pembangunan rumah Sudarni sempat terhambat persoalan administratif. RT/RW setempat mempertanyakan status kepemilikan tanah dan meminta “jatah uang” agar izin lancar. OPSHID pun tetap melanjutkan pembangunan setelah menunjukkan dokumen sah.