Bukan Sunda. Bukan Pasundan. Melainkan nama geografis netral ala kolonial.

Barulah setelah Paguyuban Pasundan melayangkan protes, pemerintah kolonial menambahkan keterangan dalam Staatsblad tahun 1925: bahwa West-Java, dalam bahasa pribumi, disebut sebagai Pasoendan.

Artinya, nama Pasundan sejak awal muncul bukan sebagai nama resmi, melainkan sekadar keterangan tambahan berbahasa lokal. Ironisnya, justru ini yang jadi cikal bakal argumen historis yang dipakai hari ini.

Ironi Kedua: Negara Pasundan, Proyek Belanda Memecah Republik

Bagian paling sensitif dari sejarah ini ada di sini, dan sering luput dari diskursus wacana ganti nama.

Pada 26 Februari 1948, Belanda membentuk Negara Jawa Barat lewat serangkaian Konferensi Jawa Barat. Dua bulan kemudian, tepatnya 24 April 1948, namanya diganti jadi Negara Pasundan.

Ini bukan inisiatif rakyat Sunda. Ini adalah negara bagian di bawah Republik Indonesia Serikat yang sengaja dirancang Belanda untuk memecah konsentrasi kekuatan Republik pascakemerdekaan, memanfaatkan sentimen kedaerahan.

R.A.A Wiranatakusumah ditunjuk sebagai Wali Negara. Menariknya, meski negara ini bikinan Belanda, Wiranatakusumah justru berasal dari kubu republiken, bukan federalis.

Strategi ini disengaja. Tokoh-tokoh republiken di Jawa Barat mendesaknya menerima jabatan itu agar Pasundan tak benar-benar lepas dari pengaruh Republik, sekaligus mencegah posisi itu jatuh ke tokoh yang benar-benar pro-Belanda.

Negara Pasundan akhirnya bubar pada 11 Maret 1950 lewat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950, kembali menjadi Provinsi Jawa Barat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jejaknya cuma bertahan dua tahun. Tapi bayang-bayang asosiasi “negara boneka Belanda” ini sampai sekarang masih menempel pada nama Pasundan dalam sejumlah narasi sejarah, meski faktanya jauh lebih kompleks dari sekadar label pengkhianatan.

Kenapa 2026 Berbeda dari Empat Kali Kegagalan Sebelumnya?

Wacana ganti nama sebenarnya sudah gagal berkali-kali. Tahun 2009, 2013, 2015, dan 2020, usulan serupa muncul lalu meredup di tengah jalan, umumnya berhenti di level diskusi komunitas budaya dan akademik.