Lebih dari Sekadar Rumah

Bagi OPSHID, membangun rumah ini bukan sekadar memberikan tempat tinggal baru. Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah adalah simbol bahwa solidaritas pemuda masih hidup. Program ini telah berjalan di berbagai provinsi di Indonesia, dengan total puluhan rumah yang dibangun serentak.

“Ini bagian dari megaproyek gotong royong nasional. Kami ingin menunjukkan bahwa pemuda bisa berbuat nyata untuk bangsa,” kata Naf’an.

Di Pasuruan, program ini punya makna tersendiri. Ia digelar menjelang peringatan 97 tahun Sumpah Pemuda dan lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. “Sumpah Pemuda bukan hanya teks sejarah. Ia harus kita hidupkan dengan aksi nyata. Rumah Syukur ini salah satu bentuknya,” lanjut Naf’an.

Harapan Baru

Sore itu, Subandiyah duduk memandang rumah barunya yang setengah jadi. Di tangan keriputnya masih tergenggam ulekan kecil, tanda ia baru selesai menyiapkan rujak untuk pelanggan. Wajahnya tampak lebih tenang.

“Saya sudah tua, tapi anak saya butuh tempat berteduh. Ini hadiah yang tidak bisa saya balas,” katanya.

Sementara itu, di Desa Jati, Subkhan merapikan beberapa batu akik dagangannya. Ia menaruhnya di meja kecil di depan rumah yang sedang dibangun. Sambil menatap anaknya yang bermain tanah, ia berbisik, “Semoga rumah ini bikin dia bisa tidur nyenyak. Tidak lagi takut hujan.”

Kedua rumah itu memang sederhana. Dindingnya dari bata diplester, atapnya genteng biasa, lantainya semen polos. Tapi bagi Subandiyah dan Subkhan, rumah itu adalah mahkota. Sebuah wujud nyata bahwa hidup tak selamanya gelap.

Gotong royong yang lahir dari semangat pemuda membuat mereka kembali percaya: selalu ada harapan, bahkan di tengah keterbatasan. Dan seperti kata Naf’an, “Rumah Syukur ini bukan sekadar rumah. Ini rumah dari harapan, doa, dan solidaritas.”***