Dua warga miskin di Pasuruan akhirnya punya harapan baru. Melalui program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah, para pemuda OPSHID membangun rumah gratis bagi mereka, menjelang 97 tahun Sumpah Pemuda.

KOSONGSATU.ID — Langit Pasuruan siang itu tampak teduh. Di Dusun Sangarejo, Desa setempat, beberapa pemuda tampak mondar-mandir membawa genteng dan kayu.

Suara ketukan palu berpadu dengan teriakan ringan para tukang. Dari kejauhan terlihat sebuah bangunan sederhana mulai berdiri tegak. Itulah rumah baru untuk Subandiyah, 69 tahun, seorang janda penjual rujak yang hidupnya lama bergantung pada kemurahan familinya.

Subandiyah sudah puluhan tahun berjualan rujak di sudut jalan desa. Usahanya kecil, penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari bersama anak dan adiknya. Ia tak pernah bermimpi punya rumah sendiri.

“Saya selama ini numpang di rumah keponakan. Tapi karena keponakan mau menikah, saya harus cari tempat tinggal lain. Belum tahu mau ke mana,” katanya, menunduk.

Situasi itulah yang membuat Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) Pasuruan menetapkannya sebagai penerima program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubina (RSLHSFM). Program gotong royong nasional ini digerakkan untuk menyambut 97 tahun Hari Sumpah Pemuda dan peringatan lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

“Kondisi Bu Subandiyah ini sangat mendesak. Beliau seorang janda, tulang punggung keluarga, tinggal menumpang. Jadi kami putuskan beliau yang berhak,” kata Naf’an, Ketua DPD OPSHID Pasuruan, Senin (29/9).

Subandiyah (rambut putih, kebaya biru), salah satu penerima program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubina di Pasuruan. – OPSHID Pasuruan

Rumah dari Harapan

Pembangunan rumah Subandiyah kini sudah sampai tahap pemasangan atap dan acian dinding. Di halaman rumah, beberapa anak muda tampak ikut membantu. Ada yang mengangkat ember berisi semen, ada pula yang menyiapkan air untuk tukang.

Sore hari, para tetangga ikut menyumbang tenaga seadanya, mulai dari membantu membersihkan lokasi hingga menyiapkan minuman.

“Kalau ada gotong royong seperti ini, kita rasakan sekali suasananya. Semua terlibat, meskipun hanya sedikit-sedikit,” ujar Sulastri, salah satu tetangga yang ikut membantu.

Bagi Subandiyah, tiap bata yang ditumpuk terasa seperti doa yang dijawab. Ia kerap duduk di kursi plastik tua, menatap pekerja yang mondar-mandir. Sesekali matanya berkaca-kaca. “Saya enggak nyangka akan punya rumah sendiri. Rasanya seperti mimpi,” ucapnya.

Kisah Subkhan, Penjual Batu Akik

Beberapa kilometer dari sana, di Desa Jati RT 01/07, suasana berbeda tapi ceritanya senada.

Sebuah rumah reyot tengah dibongkar. Atapnya yang sudah lapuk diturunkan satu per satu. Di beberapa sisi, kayu penyangga yang selama ini menahan robohan rumah akhirnya dilepas. Pemilik rumah, Subkhan, 51 tahun, tak henti-hentinya tersenyum getir melihat rumahnya rata dengan tanah.

Subkhan sehari-hari menjual batu akik di pasar desa. Barang dagangannya tak selalu laku. Uangnya hanya cukup untuk makan bersama anaknya yang baru berusia delapan tahun. Karena keterbatasan biaya, anak itu terpaksa berhenti sekolah.

“Rumah saya sudah lama hampir roboh. Atapnya ditopang kayu dari bawah. Kalau hujan deras, saya tidak berani tidur. Takut ambruk,” kata Subkhan.

Kondisi genting itulah yang membuat OPSHID memutuskan Subkhan sebagai penerima program rumah gratis. “Kalau tidak segera dibangun, musim hujan ini kemungkinan bisa roboh,” kata Naf’an.

Kini rumah Subkhan dalam tahap pembongkaran. Meski tenaga tukang minim, OPSHID dan warga sekitar berusaha menutup kekurangan dengan gotong royong.

Subkhan dan keluarganya di depan rumah mereka sebelum dibongkar. – OPSHID Pasuruan

Gotong Royong Jadi Nafas

OPSHID Pasuruan membangun dua rumah sekaligus: milik Subandiyah dan Subkhan. Dana yang terbatas harus dibagi. Naf’an mengakui, tantangan terberat justru ada pada logistik. “Kendala keuangan harus kami bagi karena membangun dua unit. Kendala lain, tenaga tukang minim,” katanya.

Namun keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat pemuda dan warga desa. Mereka bekerja dengan sistem giliran. Ada yang membantu pagi sebelum berangkat kerja, ada pula yang baru bisa datang sore hari setelah pulang ladang.

“Ini kerja ikhlas. Kalau bukan kita, siapa lagi? Mereka saudara kita juga,” ujar Hadi, pemuda yang ikut membantu membongkar rumah Subkhan.

Setiap malam, setelah pekerjaan selesai, warga duduk di teras rumah tetangga sambil menyeruput kopi. Mereka berbincang tentang harapan, tentang masa depan anak-anak, juga tentang makna gotong royong yang semakin jarang ditemui.

Lebih dari Sekadar Rumah

Bagi OPSHID, membangun rumah ini bukan sekadar memberikan tempat tinggal baru. Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah adalah simbol bahwa solidaritas pemuda masih hidup. Program ini telah berjalan di berbagai provinsi di Indonesia, dengan total puluhan rumah yang dibangun serentak.

“Ini bagian dari megaproyek gotong royong nasional. Kami ingin menunjukkan bahwa pemuda bisa berbuat nyata untuk bangsa,” kata Naf’an.

Di Pasuruan, program ini punya makna tersendiri. Ia digelar menjelang peringatan 97 tahun Sumpah Pemuda dan lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. “Sumpah Pemuda bukan hanya teks sejarah. Ia harus kita hidupkan dengan aksi nyata. Rumah Syukur ini salah satu bentuknya,” lanjut Naf’an.

Harapan Baru

Sore itu, Subandiyah duduk memandang rumah barunya yang setengah jadi. Di tangan keriputnya masih tergenggam ulekan kecil, tanda ia baru selesai menyiapkan rujak untuk pelanggan. Wajahnya tampak lebih tenang.

“Saya sudah tua, tapi anak saya butuh tempat berteduh. Ini hadiah yang tidak bisa saya balas,” katanya.

Sementara itu, di Desa Jati, Subkhan merapikan beberapa batu akik dagangannya. Ia menaruhnya di meja kecil di depan rumah yang sedang dibangun. Sambil menatap anaknya yang bermain tanah, ia berbisik, “Semoga rumah ini bikin dia bisa tidur nyenyak. Tidak lagi takut hujan.”

Kedua rumah itu memang sederhana. Dindingnya dari bata diplester, atapnya genteng biasa, lantainya semen polos. Tapi bagi Subandiyah dan Subkhan, rumah itu adalah mahkota. Sebuah wujud nyata bahwa hidup tak selamanya gelap.

Gotong royong yang lahir dari semangat pemuda membuat mereka kembali percaya: selalu ada harapan, bahkan di tengah keterbatasan. Dan seperti kata Naf’an, “Rumah Syukur ini bukan sekadar rumah. Ini rumah dari harapan, doa, dan solidaritas.”***