Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui program perluasan jaringan Palapa Ring dan Base Transceiver Station (BTS) 4G memang terus memperluas konektivitas. Namun, pemerataan akses internet pendidikan di tingkat sekolah masih belum sepenuhnya merata.

Catatan: Data rinci terbaru terkait distribusi fasilitas TIK sekolah per provinsi untuk tahun berjalan belum tersedia secara publik.

Skema “Berbagi Sumber Daya”

Sebagai respons atas keterbatasan tersebut, Kemendikdasmen menerapkan skema berbagi sumber daya. Sekolah yang tidak memenuhi standar fasilitas diperbolehkan membawa siswanya menumpang ujian di sekolah terdekat yang memiliki laboratorium komputer dan koneksi internet memadai.

Langkah ini dinilai sebagai solusi realistis jangka pendek untuk memastikan hak siswa mengikuti asesmen nasional tetap terpenuhi.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, sebelumnya menegaskan komitmen kementerian untuk menindaklanjuti temuan kendala infrastruktur di lapangan.

“Kemendikdasmen akan berupaya maksimal menindaklanjuti temuan-temuan tersebut,” ujar Abdul Mu’ti dalam keterangannya pada 26 November lalu.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa digitalisasi asesmen tidak bisa dilepaskan dari agenda besar pemerataan infrastruktur pendidikan.

Dampak Sosial dan Psikologis

Di banyak daerah 3T, status “menumpang” bukan sekadar urusan teknis. Siswa harus beradaptasi dengan lingkungan baru saat ujian, berangkat lebih pagi, bahkan mengeluarkan biaya transportasi tambahan. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, beban ini tidak ringan.

Dalam perspektif kebijakan publik, fenomena ini menunjukkan bahwa transformasi digital pendidikan membutuhkan sinkronisasi lintas sektor: pendidikan, komunikasi, infrastruktur, hingga pembiayaan daerah.

Program bantuan TIK sekolah dan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pendidikan sebenarnya telah diarahkan untuk memperkuat sarana prasarana. Namun, implementasi dan kecepatan distribusi menjadi tantangan tersendiri, terutama di wilayah dengan akses geografis sulit.

Antara Ambisi Digital dan Realitas Lapangan

Tes berbasis komputer dirancang untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akurasi asesmen nasional. Namun, tanpa pemerataan fasilitas, sistem ini berpotensi memperlebar jarak antara sekolah maju dan sekolah tertinggal.