Raden Patah tidak membangun Demak dengan menaklukkan alam, melainkan dengan mendengarkannya. Sebuah pilihan yang menjadikan ekologi sebagai fondasi awal peradaban Islam Jawa.
KOSONGSATU.ID—Sebagai raja pertama Kesultanan Demak, Raden Patah kerap dikenang dalam sejarah politik sebagai penerus Majapahit yang menggeser poros kekuasaan Jawa ke pesisir utara. Namun di balik narasi transisi itu, tersembunyi kisah tentang bagaimana alam dikelola, dirawat, dan dijadikan mitra dalam membangun negeri baru.
Demak tumbuh bukan dari tanah subur yang siap panen, melainkan dari rawa-rawa yang banjir, selat yang berlumpur, dan hutan yang harus dijaga batasnya.
Menyulap Rawa Menjadi Ruang Hidup
Demak pada akhir abad ke-15 bukanlah kawasan ideal untuk mendirikan pusat kekuasaan. Wilayah ini berada di tepi Selat Muria—perairan purba yang kala itu memisahkan Pulau Muria dari daratan Jawa.
Catatan H.J. de Graaf dan kajian geologi yang kemudian dirangkum dalam The Soil of East Central Java(1955) menyebutkan bahwa kawasan Demak dikelilingi rawa luas, rawan banjir, dan secara agraris tidak menjanjikan.
Justru di ruang liminal itulah Raden Patah melihat peluang. Ia mengubah lahan tak produktif menjadi sawah dan permukiman, membangun kanal, menata aliran air, serta memanfaatkan kedekatan dengan laut sebagai keunggulan ekonomi.
Demak lalu menjelma poros pertanian dan maritim. Beras dari pedalaman, garam, terasi Juwana, dan kain Jepara mengalir melalui jalur air, menopang perdagangan yang ramai.
Pilihan ini bukan sekadar teknis. Ia mencerminkan cara pandang: bahwa peradaban tidak harus menaklukkan alam untuk tumbuh, melainkan bisa beradaptasi dengannya.
Sungai sebagai Nadi Ekonomi dan Dakwah
Di era Raden Patah, Sungai Tuntang bukan hanya jalur air. Ia adalah urat nadi ekonomi, jalur diplomasi, dan ruang dakwah. Berhulu di lereng Gunung Merbabu dan bermuara ke bekas Selat Muria, sungai ini menghubungkan pedalaman dengan pesisir—membawa hasil bumi, manusia, dan gagasan.
Permukiman tumbuh di sepanjang bantaran. Pasar-pasar hidup. Pesantren dan pusat pendidikan Islam berdiri mengikuti alur air. Dalam kosmologi Jawa-Islam yang berkembang di Demak, sungai dipahami sebagai sukma alam: entitas yang menghidupi dan karenanya harus dihormati.
Kisah Kiai Sepuh Tuntang—penjaga sungai yang menegur pencemaran, menanam kembali pohon, dan akhirnya dipercaya menjelma bulus—mungkin sulit diverifikasi secara historis. Namun ia menyimpan pesan ekologis yang terang: alam dilindungi bukan oleh hukum tertulis, melainkan oleh kesadaran kolektif yang dibalut iman dan mitos.
Kini, Sungai Tuntang menyempit dan tercemar. Perannya sebagai poros kehidupan memudar. Tetapi ingatan tentangnya mengajarkan bahwa kejayaan Demak bertumpu pada sungai yang dirawat, bukan dieksploitasi.
Bulus dan Etika Kesabaran
Pada mihrab Masjid Agung Demak, terukir ornamen keramik seekor bulus. Di mata ikonografi Islam yang lazim, simbol fauna ini terasa ganjil. Namun bagi masyarakat Jawa abad ke-15, bulus adalah lambang keseimbangan.
Bulus—kura-kura air tawar yang hidup di sungai, rawa, dan sawah—berperan menjaga ekosistem dengan memakan sisa organisme dan mengendalikan populasi. Ia sabar, bertahan lama, dan bergerak perlahan. Nilai-nilai itu selaras dengan etika kepemimpinan yang hendak ditanamkan Demak: keteguhan iman, penguasaan diri, dan keharmonisan dengan alam.
Ornamen ini juga dibaca sebagai sengkalan memet yang merujuk pada tahun pendirian masjid, 1401 Saka atau 1479 Masehi. Dengan demikian, bulus bukan sekadar hiasan spiritual, tetapi penanda sejarah—jejak waktu yang menyatukan iman, ekologi, dan memori kolektif.
Jati Donoloyo dan Larangan Menebang
Pilar Masjid Demak—soko guru—berasal dari kayu jati terbaik. Tradisi lisan menautkannya dengan Hutan Donoloyo di Wonogiri, hutan jati tua yang hingga kini dijaga ketat. Kisah Eyang Donosari, senopati Majapahit yang menanam jati sebagai laku sunyi, lalu bertemu utusan Wali Songo, menyimpan pesan penting: hutan bukan komoditas bebas ambil, melainkan titipan lintas generasi.
Syarat Donosari—tanah dijauhkan dari perang, pagebluk, dan dijamin kecukupan hidup bagi keturunan—adalah kontrak ekologis yang jauh mendahului istilah konservasi modern. Hingga kini, larangan mengambil apa pun dari hutan Donoloyo—bahkan sehelai daun—dipatuhi bukan karena takut, melainkan karena hormat.
Dakwah yang Menyatu dengan Alam
Di Pasir Luhur, Banyumas, kisah Syekh Makdum Wali—utusan Raden Patah—menunjukkan bagaimana dakwah Islam bergerak seiring lanskap. Wilayah ini kala itu berupa hutan belantara dengan keanekaragaman hayati tinggi. Islam tidak datang sebagai alat penaklukan, melainkan sebagai bahasa baru yang menyesuaikan diri dengan ekosistem dan budaya setempat.
Hutan dalam sastra lisan Banyumas bukan latar pasif, melainkan entitas hidup yang turut membentuk perjalanan spiritual manusia. Inilah bentuk awal ekoteologi Nusantara: iman yang tumbuh bersama pelestarian alam.

Warisan yang Terlupa
Raden Patah wafat, Demak runtuh, Selat Muria menutup diri oleh sedimentasi. Namun jejak ekologis peradaban itu masih terbaca—di sungai, hutan, ornamen masjid, dan cerita rakyat. Ia mengingatkan bahwa peradaban besar tidak hanya ditopang kekuasaan dan perdagangan, tetapi juga oleh keputusan-keputusan sunyi tentang bagaimana manusia memperlakukan alam.
Di tengah krisis ekologis hari ini, Demak menawarkan pelajaran lama yang terasa baru: bahwa masa depan sering kali ditentukan oleh seberapa bijak kita merawat yang dianggap remeh—air, tanah, dan hutan—sejak awal.***





Tinggalkan Balasan