Presiden Prabowo menyebut Selat Hormuz ditutup ketika berpidato di Gorontalo. Sehari sebelumnya Iran menyatakan jalur itu terbuka bagi kapal dagang, meski pemulihan pelayaran masih rapuh.
KOSONGSATU.ID — Presiden Prabowo Subianto menyebut penutupan Selat Hormuz sebagai salah satu ancaman global yang harus dihadapi Indonesia saat berpidato dalam Puncak Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo, Rabu, 24 Juni 2026.
“Terjadi perang di mana-mana, terjadi Selat Hormuz ditutup, kita percaya diri. Kita akan mampu mengatasi, Saudara-saudara sekalian,” kata Prabowo, dikutip dari transkrip resmi pidatonya.
Prabowo mengaitkan keyakinan itu dengan klaim swasembada pangan. Ia juga menargetkan Indonesia mencapai swasembada energi dalam tiga hingga empat tahun, antara lain melalui peluncuran bahan bakar B50 berbasis minyak sawit pada Juli 2026.
Namun, pernyataan tersebut disampaikan ketika situasi di Selat Hormuz mulai bergerak menuju pemulihan.
Sehari sebelumnya, Duta Besar dan Wakil Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Ali Bahreini, menyatakan selat strategis itu telah terbuka bagi kapal dagang.
“Selat itu sepenuhnya terbuka bagi kapal-kapal, termasuk kapal dagang,” kata Bahreini pada 23 Juni 2026, seperti dikutip Anadolu.
Jalur Mulai Pulih, Risiko Belum Hilang
Pernyataan Iran itu muncul setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati nota kesepahaman sementara yang memuat penghentian operasi militer serta jaminan pelayaran komersial di Selat Hormuz selama 60 hari.
Naskah kesepakatan yang dikirim Gedung Putih kepada Kongres AS menyebut Iran akan membuka akses bebas bagi kapal dagang, sementara Amerika Serikat akan mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran secara bertahap. Reuters melaporkan kesepakatan itu ditandatangani pada 17 Juni 2026.
Meski demikian, jalur tersebut belum kembali sepenuhnya ke kondisi sebelum konflik. Menteri Energi AS Chris Wright pada 24 Juni menyatakan arus minyak melalui Selat Hormuz telah mendekati normal, dengan sekitar 20 juta barel minyak keluar dalam 24 jam.
Namun sejumlah kapal masih menghindari jalur utama karena ancaman ranjau. Pelayaran juga menggunakan rute sementara di perairan Iran dan Oman, sementara jumlah kapal yang melintas masih jauh di bawah rata-rata sebelum konflik. Pemulihan berlangsung di tengah pengawalan militer dan risiko keamanan yang belum sepenuhnya reda.
Pada 20 Juni, Garda Revolusi Iran sempat mengumumkan kembali penutupan selat menyusul ketegangan di Lebanon. Namun Komando Pusat AS menyatakan 55 kapal dagang tetap melintas dengan muatan lebih dari 17 juta barel minyak.
Bagi Indonesia, perkembangan itu tetap penting. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebelumnya memperkirakan sekitar 19 persen kebutuhan minyak nasional berasal dari pasokan Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.
Pemerintah telah menyiapkan pengalihan sebagian impor minyak mentah dari kawasan tersebut ke negara lain. Namun, terbukanya kembali jalur pelayaran setidaknya mengurangi tekanan terhadap pasokan energi dan harga minyak dibanding puncak konflik pada Maret lalu.***





Tinggalkan Balasan