Peradaban, kata Kiai Said, selalu runtuh bukan pertama-tama oleh serangan dari luar, melainkan oleh pertikaian di dalam dirinya sendiri.


KOSONGSATU.ID—Peringatan itu disampaikan Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2010–2021, di hadapan ratusan peserta konferensi internasional di Malaysia.

Dalam pandangannya, bahaya terbesar justru muncul ketika umat Islam larut dalam konflik internal—terpecah oleh klaim kebenaran, teralihkan dari tugas lebih besar membangun kebudayaan dan narasi peradaban yang percaya diri.

Dalam makalah bertajuk “Persatuan Umat Islam antara Keragaman Mazhab dan Penolakan atas Monopoli Kebenaran”, Kiai Said menempatkan persatuan bukan sebagai jargon normatif, melainkan prasyarat peradaban.

Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2010–2021, di hadapan ratusan peserta konferensi internasional di Malaysia.

Sejarah Islam, katanya, sejak awal dibangun di atas keragaman mazhab dan tradisi ijtihad. Perbedaan itu menjadi energi intelektual—hingga ia dipersempit menjadi identitas eksklusif yang saling menafikan.

Akar perpecahan, menurutnya, terletak pada sikap menganggap tafsir sendiri sebagai kebenaran mutlak. “Yang absolut hanyalah wahyu,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa seluruh pemahaman manusia bersifat relatif, terbuka untuk dialog, dan selalu mungkin dikoreksi.

Ketika relativitas itu ditolak, perbedaan mazhab berubah dari rahmat menjadi sumber konflik.

Kiai Said membaca persoalan ini bukan semata teologis, tetapi kultural. Melampaui fragmentasi internal, katanya, menuntut pembangunan kesadaran budaya Islam yang inklusif—bertumpu pada nilai-nilai bersama lintas mazhab dan mengembalikan etika Islam sebagai inti identitas. Bukan sekadar sebagai peninggalan sejarah, melainkan sebagai praksis hidup.

Ia mengingatkan, perpecahan internal telah membuka ruang lebar bagi dominasi politik, budaya, dan ekonomi asing. Umat yang terbelah kehilangan daya tawar global, bahkan kesulitan melindungi warisan budayanya sendiri.

Karena itu, Kiai Said mendorong penguatan etika dialog, pendekatan maqashid syariah, dan kerja sama lintas mazhab sebagai strategi sadar membangun masa depan bersama.

Pendekatan taqrib—pendekatan antar-mazhab—ditegaskannya bukan kompromi akidah. Ia justru merupakan ikhtiar strategis menjaga keutuhan umat di tengah dunia yang semakin terpolarisasi.