Di arena tanah Lombok, sabetan rotan dapat meninggalkan luka. Namun, Peresean mengajarkan bahwa keberanian tidak berhenti pada kemampuan menyerang, melainkan juga pada kesediaan menghormati lawan.
KOSONGSATU.ID — Alunan gamelan Sasak memecah siang di arena terbuka Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Ratusan pasang mata mengarah ke lingkaran tanah ketika dua lelaki bertelanjang dada melangkah ke tengah arena.
Keduanya mengenakan capuk atau ikat kepala khas Sasak serta kain tenun di pinggang. Tangan kanan menggenggam penjalin, rotan yang digunakan untuk menyerang, sementara tangan kiri memegang ende, perisai dari kulit kerbau.
Saat rotan pertama beradu dengan tameng, penonton bersorak. Dua petarung yang disebut pepadu itu bergerak cepat, menangkis dan membalas serangan sambil menjaga keseimbangan di atas tanah yang mulai berdebu.
Peresean adalah salah satu tradisi bela diri masyarakat Sasak yang masih hidup di Lombok. Atraksi ini kerap hadir dalam kegiatan adat, festival budaya, peringatan hari besar, hingga agenda wisata, tetapi maknanya tidak berhenti sebagai tontonan ketangkasan fisik.
Seorang pepadu dari Dusun Adat Ende, Lombok Tengah, Supari, pernah menggambarkan prinsip utama tradisi tersebut: pertarungan hanya berlangsung di arena. Setelah pertandingan selesai, tidak ada ruang untuk membawa dendam ke luar lingkaran tanah itu.
“Menang atau kalah usai bertarung, kedua petarung pasti bersalaman dan berpelukan. Tidak pernah membawa dendam ke luar arena. Segalanya dimulai dan selesai di dalam arena,” katanya.
Jejak Ksatria dan Ritual Agraris
Asal-usul Peresean hidup dalam beberapa versi yang berkembang di tengah masyarakat Sasak. Dalam ingatan kolektif masyarakat, tradisi ini kerap dikaitkan dengan ritual memohon hujan saat kemarau panjang melanda lahan pertanian.
Dalam versi lain, Peresean dipercaya berkembang sebagai latihan para ksatria pada masa kerajaan-kerajaan di Lombok. Arena pertarungan menjadi tempat menguji kecepatan, keberanian, kelincahan, serta kesiapan fisik para lelaki sebelum menghadapi konflik di luar arena.
Ketua Majelis Adat Sasak, Lalu Bayu Windya, menyebut narasi Peresean sebagai ritual hujan memang dikenal luas, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan seluruh sejarahnya.
“Masyarakat memang meyakini beberapa versi tentang sejarah Peresean. Salah satu yang paling populer menyebut olahraga ini sebagai ritual pengundang hujan. Namun, persepsi tersebut belum mewakili sejarah secara utuh,” katanya kepada KosongSatuID, baru-baru ini.
Menurut Lalu Bayu, Peresean juga merepresentasikan adu ketangkasan para ksatria pada masa kedatuan atau kerajaan-kerajaan lama di Lombok. Setiap wilayah kekuasaan, kata dia, memiliki para petarung yang dibina untuk menjaga kemampuan bela diri dan kesiapsiagaan komunal.
Tradisi itu kemudian bertahan melampaui perubahan zaman. Dari ruang latihan para ksatria dan ritus masyarakat agraris, Peresean berkembang menjadi identitas budaya yang tetap dikenali hingga sekarang.
Hubungannya dengan Festival Bau Nyale juga memperlihatkan bagaimana Peresean berada dalam lanskap tradisi Sasak yang lebih luas. Bau Nyale dikenal sebagai perayaan yang terkait legenda Putri Mandalika, tokoh dalam cerita rakyat Lombok yang memilih menceburkan diri ke laut untuk mencegah pertikaian para pelamarnya.
Rotan, Tameng, dan Aturan Arena
Sekilas, Peresean dapat terlihat seperti pertarungan tanpa batas. Rotan diayunkan ke arah kepala, bahu, dan punggung, sementara pepadu harus bergerak cepat menghindar atau menangkisnya dengan ende.
Namun, arena Peresean tidak berjalan tanpa aturan. Jalannya pertandingan dipimpin pakembar, wasit adat yang menentukan kapan laga dimulai, mengawasi serangan, hingga menghentikan duel ketika situasi dinilai tidak lagi aman.
Pepadu tidak diperbolehkan menyerang bagian tubuh bawah, terutama paha dan kaki. Serangan yang dianggap sah diarahkan ke tubuh bagian atas. Pukulan telak ke kepala dapat menjadi penentu kemenangan, tetapi pertandingan dapat dihentikan apabila salah satu pepadu mengalami luka dan mengeluarkan darah.
Dalam Peresean, kalah bukan selalu berarti kehilangan kehormatan. Luka justru menjadi bagian dari risiko yang dipahami bersama oleh kedua petarung sebelum mereka masuk ke arena.
Heri, seorang pepadu yang dikenal dengan julukan Si Patus, menyebut luka dalam Peresean sebagai bagian dari pengalaman hidup. Menurut dia, pertarungan tidak dimaksudkan untuk memperpanjang konflik, melainkan menguji kemampuan dan keberanian dalam batas adat.
“Luka itu bagian dari perjalanan. Tetapi setelah pertandingan selesai, kami tetap bersaudara,” ujarnya.
[GRAFIK: Anatomi Peresean — menampilkan pepadu, penjalin atau rotan, ende atau perisai kulit kerbau, pakembar, area serangan yang diperbolehkan, dan tahapan pertandingan hingga salaman.]Ketika Keberanian Berarti Menahan Diri
Peresean sering dipahami sebagai simbol maskulinitas masyarakat Sasak. Namun, ukuran keberanian dalam tradisi ini tidak hanya terletak pada kemampuan seseorang menerima sabetan rotan.
Pepadu juga dituntut menjaga emosi, mematuhi keputusan pakembar, dan menerima hasil pertandingan. Seorang petarung yang mampu menyerang tetapi tidak dapat mengendalikan dirinya justru belum memenuhi nilai utama Peresean.
Di tengah sorak penonton dan bunyi gamelan, pepadu bergerak dengan ritme tertentu. Mereka tidak hanya menyerang, tetapi juga menari, mengatur langkah, menghindar, dan membaca gerak lawan.
Gerakan itu memperlihatkan bahwa Peresean memiliki unsur seni di samping unsur bela diri. Tubuh menjadi medium untuk menunjukkan ketangkasan, bukan sekadar kekuatan.
Nilai sportivitas dalam Peresean juga terlihat pada bagian akhir pertandingan. Ketika pakembar menghentikan duel, kedua pepadu harus menurunkan rotan, mendekat, lalu berjabat tangan atau berpelukan.
Adegan itu menjadi inti dari seluruh pertarungan. Dalam beberapa menit, dua lelaki berhadapan sebagai lawan. Setelah peluit akhir berbunyi, keduanya kembali sebagai saudara.
Tradisi yang Beradaptasi
Peresean kini tidak hanya hadir dalam ritual atau perayaan adat. Pemerintah daerah dan pengelola desa wisata turut menjadikannya bagian dari promosi budaya Lombok.
Kehadiran wisatawan membuka ruang baru bagi Peresean untuk dikenal lebih luas. Namun, perubahan itu juga membawa tantangan: bagaimana menjaga tradisi agar tidak hanya dipahami sebagai atraksi luka dan keberanian fisik.
Regenerasi menjadi salah satu kunci. Di sejumlah kegiatan budaya, Peresean mulai diperkenalkan kepada anak-anak dan remaja dengan pengawasan lebih ketat serta penggunaan rotan yang lebih ringan.
Tujuannya bukan sekadar mencetak petarung baru. Tradisi itu menjadi cara untuk mengenalkan disiplin, keberanian, tata krama, dan penghormatan kepada lawan sejak dini.
Di Desa Adat Sade, debu arena akan kembali mengendap setelah gamelan berhenti dimainkan. Rotan disimpan, tameng diturunkan, dan para penonton perlahan meninggalkan lingkaran tanah.
Namun, yang tertinggal bukan hanya jejak sabetan atau sorak penonton. Peresean menyisakan pesan yang lebih panjang: kekuatan tidak selalu ditunjukkan lewat kemampuan menjatuhkan lawan, melainkan lewat kesediaan untuk mengakhiri pertarungan tanpa menyimpan permusuhan.
Daftar Rujukan:
- Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). (2024). Katalog Seni Pertunjukan Tradisional dan Ritus Agraris Suku Sasak Lombok. Mataram: AMAN Press.
- Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kemenparekraf RI. (2025). Profil Kebudayaan Komunal Desa Wisata Adat Sade: Aturan dan Spontanitas Peresean. Diakses dari portal resmi Jadesta.
- Majelis Adat Sasak (MAS). (2023). Revitalisasi Nilai Ksatria dan Sejarah Kedatuan Lawas di Pulau Lombok. Dokumen Internal Hasil Seminar Budaya Lombok. Mataram.
- Suparman, I. W., & Budiyono, A. (2022). “Kajian Etnofisika dan Biomekanika pada Alat Pertahanan Peresean Suku Sasak”. Jurnal Sains dan Kebudayaan Indonesia, 14(2), 112-125.






Tinggalkan Balasan