Regenerasi menjadi salah satu kunci. Di sejumlah kegiatan budaya, Peresean mulai diperkenalkan kepada anak-anak dan remaja dengan pengawasan lebih ketat serta penggunaan rotan yang lebih ringan.
Tujuannya bukan sekadar mencetak petarung baru. Tradisi itu menjadi cara untuk mengenalkan disiplin, keberanian, tata krama, dan penghormatan kepada lawan sejak dini.
Di Desa Adat Sade, debu arena akan kembali mengendap setelah gamelan berhenti dimainkan. Rotan disimpan, tameng diturunkan, dan para penonton perlahan meninggalkan lingkaran tanah.
Namun, yang tertinggal bukan hanya jejak sabetan atau sorak penonton. Peresean menyisakan pesan yang lebih panjang: kekuatan tidak selalu ditunjukkan lewat kemampuan menjatuhkan lawan, melainkan lewat kesediaan untuk mengakhiri pertarungan tanpa menyimpan permusuhan.
Daftar Rujukan:
- Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). (2024). Katalog Seni Pertunjukan Tradisional dan Ritus Agraris Suku Sasak Lombok. Mataram: AMAN Press.
- Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kemenparekraf RI. (2025). Profil Kebudayaan Komunal Desa Wisata Adat Sade: Aturan dan Spontanitas Peresean. Diakses dari portal resmi Jadesta.
- Majelis Adat Sasak (MAS). (2023). Revitalisasi Nilai Ksatria dan Sejarah Kedatuan Lawas di Pulau Lombok. Dokumen Internal Hasil Seminar Budaya Lombok. Mataram.
- Suparman, I. W., & Budiyono, A. (2022). “Kajian Etnofisika dan Biomekanika pada Alat Pertahanan Peresean Suku Sasak”. Jurnal Sains dan Kebudayaan Indonesia, 14(2), 112-125.



Tinggalkan Balasan