Ketua Majelis Adat Sasak, Lalu Bayu Windya, menyebut narasi Peresean sebagai ritual hujan memang dikenal luas, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan seluruh sejarahnya.

“Masyarakat memang meyakini beberapa versi tentang sejarah Peresean. Salah satu yang paling populer menyebut olahraga ini sebagai ritual pengundang hujan. Namun, persepsi tersebut belum mewakili sejarah secara utuh,” katanya kepada KosongSatuID, baru-baru ini.

Menurut Lalu Bayu, Peresean juga merepresentasikan adu ketangkasan para ksatria pada masa kedatuan atau kerajaan-kerajaan lama di Lombok. Setiap wilayah kekuasaan, kata dia, memiliki para petarung yang dibina untuk menjaga kemampuan bela diri dan kesiapsiagaan komunal.

Tradisi itu kemudian bertahan melampaui perubahan zaman. Dari ruang latihan para ksatria dan ritus masyarakat agraris, Peresean berkembang menjadi identitas budaya yang tetap dikenali hingga sekarang.

Hubungannya dengan Festival Bau Nyale juga memperlihatkan bagaimana Peresean berada dalam lanskap tradisi Sasak yang lebih luas. Bau Nyale dikenal sebagai perayaan yang terkait legenda Putri Mandalika, tokoh dalam cerita rakyat Lombok yang memilih menceburkan diri ke laut untuk mencegah pertikaian para pelamarnya.

Rotan, Tameng, dan Aturan Arena

Sekilas, Peresean dapat terlihat seperti pertarungan tanpa batas. Rotan diayunkan ke arah kepala, bahu, dan punggung, sementara pepadu harus bergerak cepat menghindar atau menangkisnya dengan ende.

Namun, arena Peresean tidak berjalan tanpa aturan. Jalannya pertandingan dipimpin pakembar, wasit adat yang menentukan kapan laga dimulai, mengawasi serangan, hingga menghentikan duel ketika situasi dinilai tidak lagi aman.

Pepadu tidak diperbolehkan menyerang bagian tubuh bawah, terutama paha dan kaki. Serangan yang dianggap sah diarahkan ke tubuh bagian atas. Pukulan telak ke kepala dapat menjadi penentu kemenangan, tetapi pertandingan dapat dihentikan apabila salah satu pepadu mengalami luka dan mengeluarkan darah.

Dalam Peresean, kalah bukan selalu berarti kehilangan kehormatan. Luka justru menjadi bagian dari risiko yang dipahami bersama oleh kedua petarung sebelum mereka masuk ke arena.