Heri, seorang pepadu yang dikenal dengan julukan Si Patus, menyebut luka dalam Peresean sebagai bagian dari pengalaman hidup. Menurut dia, pertarungan tidak dimaksudkan untuk memperpanjang konflik, melainkan menguji kemampuan dan keberanian dalam batas adat.
“Luka itu bagian dari perjalanan. Tetapi setelah pertandingan selesai, kami tetap bersaudara,” ujarnya.
[GRAFIK: Anatomi Peresean — menampilkan pepadu, penjalin atau rotan, ende atau perisai kulit kerbau, pakembar, area serangan yang diperbolehkan, dan tahapan pertandingan hingga salaman.]Ketika Keberanian Berarti Menahan Diri
Peresean sering dipahami sebagai simbol maskulinitas masyarakat Sasak. Namun, ukuran keberanian dalam tradisi ini tidak hanya terletak pada kemampuan seseorang menerima sabetan rotan.
Pepadu juga dituntut menjaga emosi, mematuhi keputusan pakembar, dan menerima hasil pertandingan. Seorang petarung yang mampu menyerang tetapi tidak dapat mengendalikan dirinya justru belum memenuhi nilai utama Peresean.
Di tengah sorak penonton dan bunyi gamelan, pepadu bergerak dengan ritme tertentu. Mereka tidak hanya menyerang, tetapi juga menari, mengatur langkah, menghindar, dan membaca gerak lawan.
Gerakan itu memperlihatkan bahwa Peresean memiliki unsur seni di samping unsur bela diri. Tubuh menjadi medium untuk menunjukkan ketangkasan, bukan sekadar kekuatan.
Nilai sportivitas dalam Peresean juga terlihat pada bagian akhir pertandingan. Ketika pakembar menghentikan duel, kedua pepadu harus menurunkan rotan, mendekat, lalu berjabat tangan atau berpelukan.
Adegan itu menjadi inti dari seluruh pertarungan. Dalam beberapa menit, dua lelaki berhadapan sebagai lawan. Setelah peluit akhir berbunyi, keduanya kembali sebagai saudara.
Tradisi yang Beradaptasi
Peresean kini tidak hanya hadir dalam ritual atau perayaan adat. Pemerintah daerah dan pengelola desa wisata turut menjadikannya bagian dari promosi budaya Lombok.
Kehadiran wisatawan membuka ruang baru bagi Peresean untuk dikenal lebih luas. Namun, perubahan itu juga membawa tantangan: bagaimana menjaga tradisi agar tidak hanya dipahami sebagai atraksi luka dan keberanian fisik.
Regenerasi menjadi salah satu kunci. Di sejumlah kegiatan budaya, Peresean mulai diperkenalkan kepada anak-anak dan remaja dengan pengawasan lebih ketat serta penggunaan rotan yang lebih ringan.
Tujuannya bukan sekadar mencetak petarung baru. Tradisi itu menjadi cara untuk mengenalkan disiplin, keberanian, tata krama, dan penghormatan kepada lawan sejak dini.
Di Desa Adat Sade, debu arena akan kembali mengendap setelah gamelan berhenti dimainkan. Rotan disimpan, tameng diturunkan, dan para penonton perlahan meninggalkan lingkaran tanah.
Namun, yang tertinggal bukan hanya jejak sabetan atau sorak penonton. Peresean menyisakan pesan yang lebih panjang: kekuatan tidak selalu ditunjukkan lewat kemampuan menjatuhkan lawan, melainkan lewat kesediaan untuk mengakhiri pertarungan tanpa menyimpan permusuhan.
Daftar Rujukan:
- Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). (2024). Katalog Seni Pertunjukan Tradisional dan Ritus Agraris Suku Sasak Lombok. Mataram: AMAN Press.
- Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kemenparekraf RI. (2025). Profil Kebudayaan Komunal Desa Wisata Adat Sade: Aturan dan Spontanitas Peresean. Diakses dari portal resmi Jadesta.
- Majelis Adat Sasak (MAS). (2023). Revitalisasi Nilai Ksatria dan Sejarah Kedatuan Lawas di Pulau Lombok. Dokumen Internal Hasil Seminar Budaya Lombok. Mataram.
- Suparman, I. W., & Budiyono, A. (2022). “Kajian Etnofisika dan Biomekanika pada Alat Pertahanan Peresean Suku Sasak”. Jurnal Sains dan Kebudayaan Indonesia, 14(2), 112-125.




Tinggalkan Balasan