Awak KRI Dewa Ruci sempat kesulitan menjelaskan Indonesia di Djibouti, sampai nama Soekarno disebut dan langsung disambut sorak.


KOSONGSATU.ID – Kisah singgah KRI Dewa Ruci di pesisir Afrika pada 1964 menjadi potret unik tentang besarnya gaung nama Soekarno di dunia internasional. Saat nama Indonesia belum langsung dikenali, nama presiden pertamanya justru lebih dulu dipahami.

Pada 1964, Djibouti belum menjadi bagian dari Somalia. Wilayah itu masih berstatus Somaliland Prancis. Koreksi ini penting agar kisah bersejarah tersebut tidak meleset dari konteks zamannya.

KRI Dewa Ruci membuang sauh di pelabuhan Djibouti pada 5 April 1964. Kedatangan kapal latih kebanggaan Indonesia itu langsung menarik perhatian para pekerja pelabuhan yang ingin tahu dari mana para pelaut itu berasal.

Awak kapal kemudian mencoba memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia. Namun, para pekerja pelabuhan justru tampak bingung. Mereka malah menyangka para pelaut itu berasal dari Indochina atau Saigon, yang saat itu lebih akrab di telinga mereka.

Nama yang Melampaui Negara

Momen itu berubah ketika salah seorang awak kapal spontan menyebut nama Soekarno. Seketika wajah para pekerja pelabuhan yang semula bingung berubah cerah. Mereka langsung bersorak dan mengaitkan nama Soekarno dengan Indonesia.

Di situlah letak kekuatan kisah ini. Nama Indonesia mungkin belum sepenuhnya dikenal oleh masyarakat awam di pelabuhan Afrika itu. Namun, nama Soekarno telah lebih dulu menjelma menjadi penanda politik yang mudah dikenali lintas batas negara.

Secara historis, hal itu masuk akal. Pada dekade 1960-an, Soekarno merupakan salah satu tokoh paling menonjol di dunia pascakolonial. Ia dikenal luas lewat semangat Asia-Afrika, gerakan antipenindasan, dan keberpihakannya pada bangsa-bangsa baru merdeka.

Potret Zaman Dekolonisasi

Karena itu, kisah di pelabuhan Djibouti ini bukan sekadar anekdot lucu tentang salah paham geografis. Peristiwa itu menunjukkan bahwa diplomasi kadang bekerja bukan hanya lewat negara, melainkan juga lewat pesona dan pengaruh seorang pemimpin.

Dalam lanskap Afrika 1964 yang masih dibayangi penjajahan, nama Soekarno rupanya telah melampaui identitas personal. Ia hadir sebagai simbol Indonesia yang merdeka, percaya diri, dan dikenal sebagai bagian dari gelombang besar kebangkitan Dunia Ketiga.

Inti kisah ini sederhana, tetapi kuat. Di mata banyak orang pada masa itu, Soekarno telah lebih dahulu menjadi wajah Indonesia sebelum nama negaranya sendiri benar-benar akrab di telinga dunia.***