Sinergi Forum Internasional: Kolaborasi aktif di PBB, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), D-8, hingga integrasi terbaru di blok ekonomi BRICS.
Pertukaran Tingkat Tinggi: Kunjungan rutin antar-kepala negara dan menteri untuk memperkuat sektor ekonomi, ketahanan energi, dan transfer teknologi.
Pengaruh Persia Nusantara: Jejak Perdagangan Abad ke-7
Lebih jauh dari sekadar hubungan diplomatik era modern, fondasi persahabatan ini membentang melampaui rentang satu milenium. Interaksi ini dimulai jauh sebelum nama Indonesia lahir, tepatnya ketika wilayah ini dikenal sebagai Nusantara dan Iran masih masyhur dengan nama Persia.
Jejak pengaruh Persia Nusantara ini dapat ditelusuri dari aktivitas para saudagar muslim asal Iran—yang dalam literatur kuno Tiongkok disebut sebagai orang Po-ssu. Sejak abad ke-7 Masehi, mereka telah menjadikan bandar-bandar pesisir Selat Malaka, Laut China Selatan, hingga pesisir barat Sumatra (seperti Barus) sebagai pusat pertukaran komoditas rempah dunia.
Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR-MLTL) BRIN, Sastri Sunarti, memvalidasi kuatnya ikatan historis dan perniagaan ini.
”Ketika kita berbicara tentang hubungan, (ini) 1.000 tahun lamanya. Bahkan pada masa kerajaan Sriwijaya dan dinasti yang berkuasa pada masa itu, yaitu dinasti Sasanid,” jelas Sastri.
Asimilasi Budaya: Sastra, Bahasa, dan Catatan “Agus Sunyoto Atlas Wali Songo”
Intensitas perniagaan di masa lampau melahirkan asimilasi peradaban yang secara tak sadar masih kita praktikkan sehari-hari. Jejak Persia begitu kental dalam tiga pilar utama: sastra, bahasa, dan pendidikan Islam awal.
1. Kesusastraan dan Kesenian Pertunjukan
Karya sastra lokal banyak mengadaptasi epos dari Persia. Contoh paling nyata adalah Kitab Menak yang ditulis dalam aksara Jawa, serta Hikayat Amir Hamzah dalam bahasa Melayu. Kisah-kisah kepahlawanan ini tak sekadar dibaca, tetapi dihidupkan melalui medium wayang kulit dan wayang golek oleh para pendakwah Nusantara.
2. Serapan Kosakata Persia
Ratusan kata dalam bahasa Indonesia hari ini berakar dari bahasa Persia. Tercatat lebih dari 283 kosakata terserap ke dalam bahasa Melayu dan Indonesia tanpa perubahan makna yang mendasar. Beberapa kepingan warisan tersebut antara lain:
- Perdagangan & Maritim: Bandar, saudagar, nakhoda, pasar, gandum.
- Sosial & Kehormatan: Istana, pahlawan, lasykar, kanduri (kenduri).
- Sifat & Karakter: Biadab, bedebah.
3. Sistem Pendidikan Al-Qur’an
Fakta sejarah yang sering terlewatkan adalah bagaimana Persia memodifikasi cara masyarakat Nusantara belajar agama. Terkait hal ini, Mendiang sejarawan Agus Sunyoto memberikan catatan emas. Dalam literatur Agus Sunyoto Atlas Wali Songo, ia menyoroti bahwa terminologi pengenalan huruf hijaiyah dan harakat di Nusantara menggunakan bahasa Persia, bukan Arab murni.




0 Komentar