Tradisi Intelektual dan Geopolitik Progresif

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menambahkan satu peran penting lain: tradisi intelektual Soekarno yang berpadu dengan visi geopolitik maju.

“Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah faktor penentu dalam geopolitik Soekarno yang disebut Progressive Geopolitical Coexistence. Pusat kemajuan Indonesia harus dimulai dari kampus,” ujar Hasto dalam Kuliah Umum di Universitas Tanjungpura, Pontianak, 26 Agustus 2025.

Menurut Hasto, Soekarno membangun diri lewat keunggulan intelektual dan kepercayaan pada kekuatan sendiri. Ia memahami kultur, jati diri bangsa, dan posisi Indonesia dalam peta dunia. Karena itu, pemikirannya menjangkau jauh ke depan.

Dunia dalam Genggaman Bahasa

Bung Karno juga jenius bahasa. Ia menguasai lebih dari sepuluh bahasa—dari Jawa, Sunda, Bali, Melayu, Arab, Belanda, Jerman, Prancis, Inggris hingga Jepang. Kepiawaiannya berbicara membuat Belanda ketar-ketir dan rakyat terpukau.

Menurut Sudjoko, Guru Besar ITB, Sukarno fasih menulis dan berbicara dalam banyak bahasa. “Bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Sunda, Jawa, dan Indonesia menyembur dari lidahnya dan penanya secara meyakinkan,” ujarnya.

Mantan ajudan Soekarno, Brigjen (Purn) Bambang Widjanarko, juga membenarkan: “Bung Karno lancar berbahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan bila bertemu orang Belanda, maka asyiklah ia bercakap-cakap dalam bahasa itu.”

Dalam buku Soekarno: A Biography, L.J. Giebels menulis bagaimana Bung Karno memukau massa. Ia berpidato dengan gaya teatrikal: tenang, lalu membakar semangat.

Kalimatnya pendek, berulang, dan penuh metafora wayang. Pidatonya sering terhenti karena tepuk tangan dan tawa rakyat.

Tema utamanya satu: kemerdekaan hanya bisa dicapai lewat kekuatan sendiri.

“Tidak ada yang dapat menandingi kepemimpinan Sukarno, bahkan oleh para nasionalis yang lebih tua,” tulis Giebels. “Dalam budaya Jawa yang menjunjung bapakisme, hal ini luar biasa.”

Membalik Mental Bangsa dan Peta Dunia

Soekarno tak hanya bicara, tapi membangun mental bangsa yang baru. Ia menantang rasa minder akibat penjajahan lewat Asian Games 1962, bukti bahwa Indonesia muda bisa sejajar dengan dunia.

Ia juga memimpin perjuangan merebut Irian Barat—dari diplomasi yang gagal hingga konfrontasi total lewat Trikora.

Ia menasionalisasi perusahaan Belanda, memperkuat militer, dan menjadikan Indonesia kekuatan terbesar di belahan bumi selatan.

Tak berhenti di sana, ia menginspirasi dunia ketiga lewat Konferensi Asia Afrika (KAA), Gerakan Non Blok (GNB), dan New Emerging Forces (Nefo).

Melalui forum-forum itu, Soekarno mengubah cara pandang negara-negara berkembang: tak gentar menghadapi Barat, dan berdiri sejajar dengan negara maju.