Soekarno memandang manusia dan bumi sebagai satu kesatuan yang menentukan keselamatan bangsa.

KOSONGSATU.ID—Soekarno bukan hanya pemikir politik dan arsitek ekonomi Indonesia. Dari kecil hingga menjadi presiden, ia menunjukkan kecintaan mendalam pada alam—sebuah pandangan yang hari ini bisa dibaca sebagai “fikih ekologi”, etika menjaga bumi sebagai bagian dari kebangsaan.

Alam Sebagai Identitas Bangsa

Sejak kecil, Soekarno dibentuk oleh nilai untuk menghormati makhluk hidup. Suatu pagi, ketika sarang burung jatuh dari pohon yang ia panjat, ayahnya, Raden Soekeni Sosrodihardjo, menegur keras.

“Bukankah engkau sudah ditunjuki untuk melindungi makhluk Tuhan?” tegur sang ayah. Dengan suara gemetar, Soekarno kecil menjawab bahwa burung dan telurnya adalah ciptaan Tuhan. Momen itu menanamkan kesadaran moral tentang alam yang ia bawa sepanjang hidupnya.

Kesadaran itu makin kuat ketika ia dewasa. Pada suatu malam di asrama Technische Hoogeschool te Bandoeng, Soekarno muda berkhotbah kepada rekannya yang sedang tidur.

Baginya, Indonesia bukan sekadar wilayah politik, melainkan lanskap hidup yang berjiwa: pohon yang kuat, langit yang biru, laut berderu, udara hangat, dan tawa anak-anak. “Inilah arti tanah-air kita bagiku,” ujar Soekarno.

Ketika menjadi presiden, kecintaan itu diwujudkan dalam tindakan nyata. Ia menanam pohon di berbagai tempat—dari Berastagi, Istana Negara, Istana Tampaksiring, hingga komplek Badan Diklat Kejaksaan RI. Ia juga merancang sabuk hijau di Palangka Raya dan menjalankan Gerakan Hidup Baru yang menekankan kebersihan lingkungan.

Di kancah internasional, ia menanam pohon di Padang Arafah pada 1955. Tahun 2016, sebatang pohon perdamaian di Yordania diberi nama Pohon Perdamaian Soekarno. Tiga tahun kemudian, sebuah taman di Mexico City diberi nama Taman Soekarno.

Persatuan Manusia dan Bumi

Pemikiran ekologis Soekarno tampak jelas dalam pidatonya pada 1 Juni 1945 di depan BPUPKI. Ia menolak pemahaman bangsa yang hanya melihat manusia, seperti gagasan Ernest Renan atau Otto Bauer. Soekarno menegaskan bahwa manusia dan tempatnya—bumi yang dipijak—adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

“Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dan bumi yang ada di bawah kakinya,” kata Soekarno.

Dalam pidato itu, ia mengenalkan konsep tanah air sebagai inti kebangsaan. Bumi bukan hanya ruang tinggal, melainkan penopang hidup bangsa. Kelestariannya menentukan keberlangsungan negara dan kehidupan manusia. Kata “tidak dapat dipisahkan” merujuk pada relasi dinamis antara manusia dan lingkungannya—relasi yang menuntut tanggung jawab.

Melalui konsep kebangsaan dan peri-kemanusiaan, ia memaknai tindakan terhadap alam sebagai cermin perilaku manusia yang beradab. Seolah-olah Soekarno mendengar bumi sendiri berikrar bersama Sumpah Pemuda: “Kami juga bangsa Indonesia.”

Lingkungan sebagai Jalan Keselamatan Bangsa

Soekarno kemudian memeras gagasan kebangsaan dan peri-kemanusiaan menjadi satu istilah: sosio-nasionalisme—nasionalisme yang mencari “selamatnya seluruh masyarakat” dan patuh pada hukum masyarakat itu sendiri.

Bagi Soekarno, pelestarian lingkungan tidak bisa dipisahkan dari misi menyelamatkan bangsa. Ada dua prinsip utama: