Di rumah Tjokroaminoto, Soekarno muda tak sekadar indekos. Ia menemukan Islam, memupuk nasionalisme, dan menyerap sosialisme.


KOSONGSATU.ID – Banyak orang meyakini bahwa Soekarno mengenal Islam secara mendalam berkat campur tangan ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo. Sang ayah menitipkan Soekarno remaja kepada Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto saat ia menempuh pendidikan di Hogere Burger School (HBS) Surabaya. Di rumah tokoh besar Sarekat Islam inilah, cakrawala berpikir Soekarno mulai terbuka lebar.

Semasa kecil di Jombang, Mojokerto, dan Tulungagung, Soekarno belum mendapatkan pendidikan agama yang teratur. Pengamat Sejarah di Surabaya, Kuncarsono Prasetyo, menepis kabar burung yang menyebut Soekarno rajin mengaji di surau saat kecil di Surabaya. Menurut Kuncarsono, Soekarno baru bersentuhan langsung dengan ajaran Islam ketika ia pindah ke Surabaya pada usia belasan tahun.

“Dituliskan pada catatannya bahwa ‘Saya mengenal Islam ketika umur saya 15 tahun’. Ia mengenal agama Islam pertama kali dari Pak Cokro, karena setiap hari diajak pengajian di depan rumahnya,” ungkap Kuncarsono Prasetyo.

Di rumah yang terletak di Gang Peneleh VII No. 29-31 itu, Soekarno mulai mendalami fikih dan cabang ilmu Islam lainnya. Rumah tersebut seakan menjadi kawah candradimuka yang menempa spiritualitas Sang Putra Fajar.

Memupuk Nasionalisme dari Sang Raja Jawa Tanpa Mahkota

Tinggal di rumah tokoh pergerakan sebesar Tjokroaminoto jelas bukan kebetulan belaka. Sang ayah memang sengaja mengirim putra satu-satunya itu agar berguru pada pemimpin yang diakui dan ditakuti oleh penjajah Belanda.

Sejarawan dan Pemred Historia, Bonnie Triyana, memaparkan bahwa rumah Tjokroaminoto selalu ramai oleh tokoh-tokoh pergerakan. Soekarno muda sering kali memasang telinga lebar-lebar, mencuri dengar diskusi semalam suntuk antara sang guru dengan tokoh seperti Agus Salim, Semaun, dan Alimin.

“Itulah masa penting bagi Bung Karno di dalam pendidikan politiknya dari tokoh Sarikat Islam yang terkemuka. Pak Tjokro itu disebutnya sebagai Raja Jawa tanpa mahkota, pemimpin besar Sarikat Islam,” jelas Bonnie Triyana.

Suatu malam, Soekarno berani menyela diskusi untuk bertanya tentang seberapa banyak kekayaan Indonesia yang Belanda keruk. Tjokroaminoto tersenyum dan mulai menjelaskan panjang lebar tentang keserakahan kapitalisme kolonial. Dari percakapan-percakapan inilah, benih nasionalisme Soekarno tumbuh subur, yang kelak ia rumuskan menjadi ajaran Marhaenisme. Ia bahkan meniru gaya pidato gurunya yang menggelegar untuk menggetarkan hati rakyat.

Menyerap Gagasan Sosialisme Islam

Walaupun Soekarno menyerap ilmu dari berbagai sumber, termasuk membaca pemikiran Karl Marx dan George Washington, ajaran Tjokroaminoto tentang Sosialisme Islam meninggalkan jejak ideologis yang paling pekat. Tjokroaminoto menolak anggapan bahwa sosialisme bertentangan dengan agama. Sebaliknya, ia menjadikan Islam sebagai energi moral untuk melawan ketidakadilan.

Dalam pandangan Tjokroaminoto, sosialisme berprinsip saling bertanggung jawab antar-sesama, sebuah nilai yang sudah Rasulullah praktikkan sejak 13 abad silam.

“Sosialisme hanyalah bisa menjadi sempurna apabila tiap-tiap manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri saja sebagai binatang atau burung, tetapi hidup untuk keperluan masyarakat bersama… karena segala apa saja berasal dari Allah Yang Maha Kuasa,” tulis Tjokroaminoto dalam bukunya, Islam dan Sosialisme (1963).

Pemahaman ini membentuk kerangka berpikir Soekarno. Ia menyadari bahwa Islam, Nasionalisme, dan Sosialisme bukanlah tiga kutub yang harus saling meniadakan, melainkan kekuatan yang bisa menyatu untuk memerdekakan bangsa. Gagasan persatuan ini kelak tercermin dalam konsep NASAKOM dan perumusan Pancasila.

Penyempurnaan Spiritual di Balik Jeruji Besi

Meskipun Tjokroaminoto telah meletakkan fondasi keislamannya, Soekarno mengakui bahwa pemahaman spiritualnya baru mencapai titik paling hakiki justru saat ia mendekam di Penjara Sukamiskin, Bandung.

Tanpa pasokan buku-buku politik yang biasa ia lahap, Soekarno mengalihkan fokusnya untuk mengkaji Al-Quran. Di dalam sel yang sempit itu, pada usia 28 tahun, ia menemukan Tuhan yang tidak terbatas—Tuhan yang meliputi seluruh alam dan Maha Kuasa. Di Sukamiskin lah, Soekarno merasa menjadi penganut Islam yang sebenar-benarnya.

HOS Tjokroaminoto mungkin telah tiada pada 17 Desember 1934, namun perpaduan Islam dan sosialisme yang ia ajarkan berhasil melahirkan generasi pembebas. Lewat tangan dinginnya, Soekarno menjelma dari seorang remaja indekos menjadi proklamator yang menyatukan bangsa.***


Daftar Pustaka:

  • Adams, Cindy. Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
  • (1952). H.O.S. Tjokroaminoto Hidup dan Perjuangannya.
  • Manan, Firman. (2016). “Sosialisme Islam: Perspektif Pemikiran Politik H.O.S. Tjokroaminoto” dalam Jurnal Wacana Politik.
  • (2012). Sarekat Islam Mencari Ideologi 1924-1945.
  • Pasha, Mustafa Kemal. (2002). Civics Education.
  • Tjokroaminoto, H.O.S. (1963). Islam dan Sosialisme.