Narasi Felix Siauw yang menyebut konflik Iran-Israel sekadar sandiwara memicu polemik. Mari bongkar kesesatan logika sejarahnya.


Oleh: Faried Wijdan | Penulis KosongSatuID

Di tengah eskalasi konflik berdarah di Timur Tengah, tokoh publik Felix Siauw kembali memantik perdebatan. Melalui media sosialnya, ia menebarkan kecurigaan bahwa konfrontasi militer antara Iran dan Israel hari ini hanyalah panggung sandiwara.

Alasannya sederhana—bahkan terlalu menyederhanakan—yakni karena bangsa Persia dan Yahudi pernah bersahabat di masa lalu.

​Felix mengajak audiensnya mundur jauh ke abad ke-6 SM pada era Cyrus the Great (Koresh Agung) yang membebaskan bangsa Yahudi, hingga era modern di bawah kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Rezim Shah memang terkenal sebagai sekutu utama Israel dan boneka Amerika Serikat di kawasan tersebut. Mereka menjalin kerja sama militer dan intelijen secara terbuka.

​Namun, Felix sengaja memotong sejarah secara fatal. Ia menutup mata pada fakta bahwa semua kemesraan itu runtuh dan terkubur bersama pecahnya Revolusi Islam pada 1979.

​Jutaan rakyat Iran menggulingkan monarki tersebut dan mendirikan Republik Islam yang secara konstitusional bersikap anti-Zionis. Sejak titik itu, Iran memutus hubungan diplomatik dan secara resmi mengubah Kedutaan Israel di Teheran menjadi Kedutaan Palestina.

Menyamakan Iran pasca-1979 dengan Iran era Shah sama konyolnya dengan menyamakan Indonesia di bawah pemerintahan Hindia Belanda dengan Republik Indonesia merdeka.

​Terjebak dalam Logical Fallacy dan Analogi Usang

​Menganalisis argumen Felix Siauw, kita akan dengan cepat menemukan kecacatan logika yang telanjang. Ia membangun narasi berpola:

​“Karena dulu Iran dan Israel bersahabat, maka sekarang mereka pura-pura bermusuhan.”

​Pola pikir ini merupakan bentuk non sequitur fallacy (kesimpulan yang tidak sejalan dengan premis awal) dan fallacy of false analogy. Hubungan geopolitik masa lalu yang usang tidak bisa Anda pakai sebagai pisau bedah untuk menganalisis realitas politik modern yang telah berganti ideologi secara radikal.