Jika kita mengamini logika Felix, kita juga harus percaya bahwa Amerika Serikat dan Rusia hari ini masih menjadi sekutu rahasia hanya karena mereka pernah bersama-sama melawan Nazi di Perang Dunia II. Tentu saja itu menggelikan.
Selain itu, Felix menciptakan false dilemma (dikotomi palsu) dengan mempersempit motif konflik. Ia menggiring opini bahwa perang ini sekadar urusan blok kekuasaan (Rusia-Cina-Iran melawan AS-Israel) atau sekadar upaya mengembalikan rezim lama, tanpa ada kaitan sama sekali dengan pembelaan terhadap Palestina.
Ia mengabaikan bahwa sebuah negara bisa saja mempertahankan kedaulatan geopolitiknya sekaligus memperjuangkan ideologi pembebasan Palestina secara bersamaan.
Fakta Nyata vs Narasi Sandiwara
Jika konflik ini benar-benar hanya gimik belaka, Felix Siauw berutang penjelasan pada dunia mengenai banyak hal yang mustahil masuk akal.
Mengapa agen Mossad bersusah payah membunuh ilmuwan nuklir terkemuka Iran seperti Mohsen Fakhrizadeh? Mengapa fasilitas nuklir Iran berkali-kali hancur akibat sabotase Israel? Dan yang paling krusial, mengapa Iran selama bertahun-tahun rela terkena embargo ekonomi internasional demi mempersenjatai kelompok perlawanan seperti Hamas, Jihad Islam, dan Hizbullah?
Bahkan kelompok pejuang Sunni seperti Hamas secara terbuka mengakui bahwa dukungan Iran adalah nyawa utama dalam perlawanan mereka menghadapi Israel. Jika semua ini hanya sandiwara, maka dunia membutuhkan teori fiksi ilmiah yang jauh lebih waras untuk menjelaskannya.
Sentimen Sektarian yang Mengerdilkan Kemanusiaan
Sayangnya, narasi yang Felix bangun tampaknya tidak lepas dari bias konfirmasi dan sentimen sektarian. Ia secara implisit memberikan sinyalemen bahwa karena mayoritas Iran menganut mazhab Syiah, maka langkah mereka pasti memiliki agenda tersembunyi untuk menghancurkan Sunni. Narasi ini sangat selaras dengan agitasi kaum Zionis-Israel yang secara aktif mencoba memecah belah dukungan umat Islam dengan memainkan kartu konflik Sunni-Syiah.
Ironisnya, di saat yang sama, banyak negara mayoritas Sunni di Timur Tengah justru sibuk menormalisasi hubungan diplomatik dan membuka jalur perdagangan militer dengan Israel. Namun, mereka kerap luput dari tuduhan “bersandiwara” atau “berkhianat”.




Tinggalkan Balasan