Pada 1925, jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945, seorang anak Minang di tanah pengasingan berteriak lantang: Indonesia harus merdeka! Dan bentuk negara itu harus republik!

KOSONGSATU.ID—Pada tahun 1925, seorang pengembara politik asal Minangkabau menorehkan jejak pemikirannya dari tanah pengasingan.

Namanya Tan Malaka. Dan bukunya, Naar de Republiek Indonesia—dalam bahasa Belanda berarti Menuju Republik Indonesia—menjadi tonggak awal seruan paling tegas: bangsa Indonesia harus merdeka dalam bentuk republik.

Di masa itu, sebagian besar tokoh pergerakan masih berbicara hati-hati. Ada yang menuntut perbaikan nasib lewat jalan parlementer, ada pula yang menghendaki otonomi terbatas di bawah bayang-bayang kolonial Belanda. Namun, Tan Malaka melangkah jauh lebih berani.

Ia menyodorkan visi yang terang: Indonesia tidak boleh puas dengan sekadar “diberi keringanan”, tetapi harus merebut kemerdekaan penuh. Dan bentuk negara itu haruslah republik, bukan kerajaan, bukan federasi boneka, melainkan rumah rakyat yang sejati.

Menolak Kompromi, Memilih Jalan Revolusi

Bagi Tan Malaka, kemerdekaan sejati tidak mungkin lahir dari kemurahan hati penjajah. Belanda, dengan struktur kolonial yang mapan, tidak akan rela melepaskan sumber keuntungan yang mereka genggam. Karena itu, ia menolak politik kompromi. Jalan yang ia tawarkan adalah revolusi.

Revolusi bukan sekadar perlawanan bersenjata, tetapi sebuah kesadaran kolektif bahwa rakyat tidak boleh tunduk pada sistem kolonial. Ia mendorong strategi non-kooperasi: jangan duduk manis di parlemen kolonial, jangan menerima jabatan yang membuat bangsa terikat pada tali penjajah. Kemerdekaan, menurutnya, hanya bisa diraih dengan berdiri di atas kaki sendiri.

Rakyat sebagai Kekuatan Utama

Tan Malaka tidak percaya pada kemerdekaan yang hanya dinegosiasikan oleh elite. Ia yakin, kekuatan sejati ada di tangan buruh, tani, dan rakyat jelata. Mereka yang sehari-hari bekerja di ladang, di pelabuhan, di pabrik, adalah tulang punggung bangsa.

Karena itu, revolusi harus berakar pada rakyat. Bukan di ruang rapat yang penuh wacana, tetapi di sawah, di pasar, di jalan-jalan di mana rakyat kecil merasakan langsung penindasan kolonial.

Tan Malaka percaya, hanya dengan mengorganisir massa rakyat, Indonesia bisa benar-benar merdeka.

Internasionalisme dan Solidaritas Anti-Kolonial

Dalam pandangan Tan Malaka, Indonesia tidak berdiri sendiri. Ia melihat nasib bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang sama-sama terjajah, dan menyatukan itu dalam bingkai internasionalisme.

Sebagai sosialis, ia percaya perjuangan rakyat Indonesia adalah bagian dari perjuangan global melawan imperialisme dan kapitalisme. Indonesia merdeka, menurutnya, bukan hanya untuk bangsa sendiri, tetapi juga untuk menjadi bagian dari arus besar pembebasan dunia. Ia menyerukan solidaritas lintas batas—sebuah visi yang jauh melampaui zamannya.

Pentingnya Pendidikan Politik

Namun Tan Malaka tahu, revolusi tidak bisa sekadar digerakkan oleh kemarahan. Dibutuhkan kesadaran politik yang kokoh. Itulah sebabnya ia menekankan pendidikan rakyat.

Baginya, rakyat harus memahami mengapa mereka ditindas, siapa yang menindas, dan bagaimana cara melawan. Ia mendorong organisasi massa, pamflet, dan pengajaran politik sederhana, agar rakyat Indonesia bukan sekadar “ikut-ikutan”, melainkan benar-benar sadar akan perjuangannya.

Membongkar Wajah Kolonial

Dalam buku ini, Tan Malaka juga menelanjangi sistem kolonial Belanda. Ia menunjukkan bagaimana politik dan ekonomi kolonial dibangun hanya untuk kepentingan kapitalis Eropa. Kekayaan bumi Indonesia diperas, sementara rakyat pribumi tetap miskin dan terbelakang.

Revolusi yang ia maksud bukan hanya memerdekakan tanah air secara politik, tetapi juga membebaskan rakyat dari jeratan ekonomi kolonial. Tan Malaka memimpikan sebuah Indonesia yang berdaulat atas tanah, hasil bumi, dan nasibnya sendiri.

Sebuah Manifesto Kemerdekaan

Naar de Republiek Indonesia bukan sekadar buku, melainkan manifesto. Dalam lembar-lembar kertas itu, Tan Malaka mengguratkan arah yang jelas:

  • Kemerdekaan penuh, segera, tanpa kompromi.
  • Republik sebagai bentuk negara.
  • Rakyat pekerja sebagai fondasi perjuangan.
  • Non-kooperasi terhadap kolonial.
  • Internasionalisme dan solidaritas anti-imperialis.

Di tengah situasi politik Hindia Belanda yang masih ragu-ragu, suara Tan Malaka terdengar lantang. Ia tidak hanya menawarkan analisis, tetapi juga memberikan arah.

Warisan yang Tak Pernah Padam

Sejarah mencatat, gagasan Tan Malaka kerap dianggap terlalu radikal. Ia diasingkan, diburu, dan berkali-kali dipinggirkan. Namun warisan pemikirannya tetap hidup. Naar de Republiek Indonesiamenjadi saksi betapa jauh sebelum 17 Agustus 1945, ada seorang putra bangsa yang sudah menyerukan: Indonesia harus merdeka, harus berbentuk republik, dan harus berdiri di atas kekuatan rakyat sendiri.

Itulah jejak pemikiran Tan Malaka—tegas, keras, tapi juga penuh keyakinan bahwa suatu hari bangsa ini akan benar-benar berdiri merdeka.***