Tan Malaka mendirikan sekolah untuk anak buruh dan petani di tengah penjajahan. Apa yang ia lawan, dan mengapa namanya masih sering dilupakan?
KOSONGSATU.ID — Di Semarang, lebih dari satu abad lalu, seorang guru muda mendirikan sekolah bukan untuk mencetak pegawai penjajah — melainkan untuk melahirkan manusia merdeka.
Namanya Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka, lebih dikenal sebagai Tan Malaka. Ia lahir pada 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Pekan depan adalah hari lahirnya — momen yang tepat untuk menengok kembali warisannya.
Pendidikan sebagai medan perang
Pendidikan era penjajahan berorientasi pada pemenuhan tenaga terdidik untuk industri dan administrasi Belanda — yang bersifat diskriminatif, eksklusif, dan memisahkan anak didik dari rakyat banyak.
Hanya 6 persen anak-anak pribumi yang bisa mengakses pendidikan formal. Sekolah seperti HIS dan HBS dikhususkan bagi anak bangsawan dan keturunan Eropa.
Tan Malaka melihat ini bukan sekadar ketidakadilan — melainkan senjata penjajahan.
Sekolah untuk Anak Buruh
Pada 21 Juni 1921, Tan Malaka bersama Sarekat Islam cabang Semarang mendirikan sekolah setingkat sekolah dasar untuk memajukan pendidikan bangsa Indonesia.
Hampir semua muridnya adalah anak buruh, anak pedagang kecil, anak petani, dan pegawai yang berhubungan dengan Sarekat Islam.
Menurut Tan Malaka, suasana di SI School lebih sehat dan lebih dekat pada watak anak asal Timur — bukan sekadar soal biaya yang lebih ringan.
Tiga tujuan Pendidikan
Dalam brosur SI Semarang dan Onderwijs (1921), Tan Malaka merumuskan tiga tujuan pendidikan: bekal mencari penghidupan, hak murid atas kesenangan hidup melalui pergaulan, dan kewajiban kelak terhadap jutaan kaum yang tertindas.
Ditutup, tapi Tidak Mati
Pemerintah penjajah Belanda menutup paksa banyak sekolah rakyat. Salah satunya di Bandung diserahkan ke Soekarno, lalu diteruskan ke Taman Siswa.
Kendati ditutup, sekolah-sekolah itu muncul kembali dengan model pendidikan Tan Malaka — cikal bakal lahirnya sekolah-sekolah rakyat di seluruh Hindia Belanda.
Tan Malaka diakui sebagai pahlawan nasional melalui keputusan presiden pada 28 Maret 1963.
Namun namanya masih sering absen dari buku sejarah sekolah — ironi paling dalam dari seorang guru yang seluruh hidupnya dipersembahkan untuk pendidikan rakyat.***
Daftar Rujukan





Tinggalkan Balasan