Yang sering kurang adalah model usaha yang benar-benar hidup.
Kopdes Merah Putih berisiko masuk ke ruang yang sudah penuh lembaga, tetapi belum tentu penuh transaksi. Karena itu, tantangan utama bukan mendirikan bangunan atau melantik pengurus, melainkan memastikan koperasi punya pelanggan, anggota aktif, pemasok yang sehat, dan produk yang bergerak.
Di titik ini, pendekatan semi-militer bisa menjadi simbol yang terlalu besar dibanding substansi yang sedang dibutuhkan.
Sebab tantangan terbesar koperasi tidak selalu datang dari peserta yang malas bangun pagi. Tantangan justru muncul saat pengurus harus menolak titipan proyek, memilih pemasok secara terbuka, menagih kredit anggota tanpa memecah hubungan sosial, atau menjelaskan kerugian usaha dalam rapat anggota.
Itu bukan medan latihan fisik. Itu medan tata kelola.
Negara Seolah Sedang Mencari Manajer yang Tahan Tekanan
Ada sinyal politik yang lebih besar di balik pilihan pelatihan semacam ini.
Pemerintah tampaknya ingin membangun figur manajer Kopdes yang bukan hanya bisa menjalankan usaha, tetapi juga tahan terhadap tekanan birokrasi, loyal terhadap program, dan mampu menggerakkan struktur hingga tingkat desa.
Dalam bahasa resmi, itu disebut disiplin dan bela negara.
Dalam bahasa politik, itu bisa dibaca sebagai upaya membentuk mesin pelaksana yang seragam untuk proyek ekonomi desa berskala nasional.
Tidak selalu salah. Program sebesar 80 ribu koperasi memang membutuhkan koordinasi kuat.
Tetapi koperasi punya watak yang berbeda dari proyek instruksional. Ia hidup dari partisipasi anggota, bukan sekadar kepatuhan pada target.
Semakin besar koperasi dikendalikan dari atas, semakin besar pula risiko ia menjadi etalase program: papan nama ada, bangunan ada, seragam ada, tetapi transaksi dan manfaat ekonominya tipis.
Rp30 Juta untuk Baris, Rp15 Juta untuk Bisnis
Kritik terhadap pelatihan ini juga mengeras ketika muncul sorotan anggaran.
Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin menyebut biaya pelatihan calon manajer Kopdes sekitar Rp45 juta per peserta. Dari angka itu, sekitar Rp30 juta disebut dialokasikan untuk latihan militer, sedangkan sekitar Rp15 juta untuk materi substansi koperasi dan manajerial.


Tinggalkan Balasan