Revolusi Pikiran yang Belum Selesai
Meski namanya sempat dikubur oleh sejarah resmi, Tan Malaka kembali hidup hari ini melalui pemikiran-pemikirannya yang melampaui zamannya. Ia tak sekadar pejuang kemerdekaan, tapi seorang pendidik yang menaruh harapan pada kekuatan akal sehat.
Dalam konteks hari ini, Madilog seharusnya masuk ruang kelas, bukan lemari museum. Ia bukan hanya bacaan aktivis kampus, tapi pedoman bagi guru, jurnalis, pemimpin, dan warga negara.
Revolusi fisik telah lama usai. Tapi revolusi pikiran yang diimpikan Tan Malaka masih jauh dari selesai. Kita masih terjebak pada kultus tokoh, romantisme sejarah, dan trauma berpikir kritis.
Penutup: Madilog, Kompas di Tengah Kabut
Ketika Tan Malaka mengguratkan kalimat-kalimatnya dalam Madilog, ia sedang membuat peta navigasi. Ia tahu badai akan datang. Ia tahu bangsanya akan tersesat jika tak punya kompas. Dan kompas itu bukan doktrin, bukan semboyan kosong, melainkan cara berpikir yang sehat dan berani.
Hari ini, dalam dunia yang penuh kabut data dan informasi, kita butuh Madilog lebih dari sebelumnya. Bukan untuk menjadi Tan Malaka, tapi untuk menjadi manusia yang tahu ke mana harus melangkah, dan mengapa harus melawan.—Selesai—



Tinggalkan Balasan