Menatap Cermin: Apa yang Masih Tersisa dari Kita?

Di era ketika semuanya bisa digandakan, diunggah, dan dikomentari dalam hitungan detik, kebudayaan mudah berubah menjadi sekadar konten. Di sinilah refleksi Hikmat Budiman terasa kian relevan: kita sedang hidup di antara bayangan-bayangan citra, sementara realitas budaya yang sejati perlahan memudar.

Lubang hitam kebudayaan itu tak akan berhenti berputar. Tapi pilihan ada di tangan kita—apakah akan tersedot di dalamnya, atau memantulkan kembali cahayanya menjadi daya cipta baru bagi kebudayaan Indonesia.***