Semasa menjabat gubernur, ia berkunjung ke Kudus dan menyaksikan langsung bagaimana industri kretek menggerakkan perekonomian rakyat.
Gagasan itu berbuah nyata: Museum Kretek berdiri di atas lahan 2,5 hektare di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus—dan diresmikan olehnya sendiri pada 3 Oktober 1986, kali ini dalam kapasitasnya sebagai Menteri Dalam Negeri.
Rekonstruksi Makna yang Tertunda
Haji Djamhari, warga Kudus yang diyakini menemukan kretek sekitar 1870–1880, tidak berniat menciptakan industri. Ia hanya ingin mengobati sesak napasnya dengan minyak cengkeh—dan bereksperimen dengan mencampurkannya ke dalam tembakau.
Bahwa temuan tersebut kemudian menjadi komoditas raksasa, itu adalah ironi sejarah.
Kesadaran akan asal-usul ini mengharuskan kita bertanya lebih jujur. Bukan untuk membenarkan konsumsi massal nikotin—risiko kesehatannya tidak bisa diabaikan. Melainkan untuk menolak penyederhanaan yang gegabah: bahwa segala yang berbau tembakau adalah warisan buruk tanpa nilai.
Indonesia memerlukan kebijakan tembakau yang mampu membedakan tiga hal sekaligus: menghukum sifat adiktifnya, melindungi nilai historisnya, dan mendidik generasi muda dengan kejujuran penuh. Kretek adalah cermin bangsa—dan cermin tidak perlu dihancurkan untuk melihat gambar yang lebih bersih.
Al-muhafadhotu ala qodim as-salih, wal akhdu bil jadidil aslah—menjaga yang lama selama masih baik, mengambil yang baru selama lebih baik. Demikian ibarah KH. Hasyim Asy’ari yang layak kita renungkan setiap kali memandang sebatang kretek bukan sebagai musuh, melainkan sebagai saksi bisu perjalanan bangsa.***
Daftar Referensi:
- Anam, Choirul. Pertumbuhan dan Perkembangan NU.
- Dokumentasi Arsip dan Penuturan Edukator Museum Kretek Kudus (Novi Nurhayati).
- Wawancara/Pernyataan Alfonso R Alexandri (Keluarga Kretek Tjap Saboek).
- Catatan Sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Keterlibatan Jenderal Soedirman serta Kolonel Gatot Subroto.
- Sejarah Pendirian Museum Kretek Kudus (1980-1986) oleh Soepardjo Rustam.




Tinggalkan Balasan