Sebelum kretek menjadi industri raksasa, ia adalah urat nadi revolusi. Menyokong dana gerilya, melahirkan NU, dan menjaga mazhab Islam Nusantara.


KOSONGSATU.ID — Sebelum kretek menjadi musuh kampanye kesehatan global, ia pernah membiayai revolusi.

Tiga nama besar menyimpan jejak pada lintingan tembakau dan cengkih itu: seorang ulama pelopor, seorang panglima yang bergerilya dalam sakit tubuhnya, dan seorang gubernur yang tahu cara menghargai sejarah. 

Ketiganya memandang kretek bukan sebagai keburukan, melainkan sebagai instrumen kemandirian.

Kiai Wahab dan Ekonomi Sebagai Jihad

Pada 1918, KH Wahab Chasbullah mendirikan Nahdlatut Tujjar—organisasi ekonomi Islam yang berfungsi sebagai penggalang dana kemandirian umat pribumi. Bagi Kiai Wahab, bangsa yang ingin merdeka harus mapan secara ekonomi terlebih dahulu.

Langkahnya melampaui urusan fikih. Ketika kelompok modernis hendak mengharamkan rokok secara keras, Kiai Wahab menilai perkara itu sebagai furuiyyah—cabang agama—yang tak pantas membuahkan pelarangan ekstrem yang justru mematikan nadi ekonomi rakyat.

Dari akar inilah, bersama Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab membentuk Komite Hijaz pada Januari 1926. Delegasi ini menghadap Raja Ibnu Saud di Arab Saudi, menuntut kebebasan bermazhab di Tanah Haram—dan berhasil. Raja menjamin kebebasan beribadah dalam empat mazhab, dan situs-situs bersejarah Islam urung dirobohkan.

Pabrik Kretek dan Gerilya Soedirman

Proklamasi 1945 bukan akhir perjuangan. Agresi militer Belanda membutuhkan dana, dan para juragan kretek Kudus mengambil peran sunyi namun menentukan.

Berdasarkan penuturan Novi Nurhayati, edukator Museum Kretek Kudus, sebuah foto dokumentasi 1949 merekam Kolonel Gatot Subroto—Panglima Divisi II yang berperan dalam Serangan Umum 1 Maret 1949—bersama para tokoh pejuang di halaman pabrik kretek Olivah di Kudus. Narasi lisan ini menegaskan apa yang sudah lama tersirat: industri kretek pribumi bukan sekadar bisnis, melainkan bagian dari jaringan logistik perlawanan.

Alfonso R. Alexandri, keturunan pemilik pabrik Tjap Saboek, mengaku masih mencari dokumen asli surat Jenderal Soedirman yang pernah dikirim kepada buyutnya. Bukti tertulis itu belum ditemukan, namun tradisi lisan keluarga-keluarga pabrik kretek Kudus konsisten menceritakan hal yang sama.

Soepardjo Rustam: Sejarah Harus Dimonumenkan

Ada nama lain yang mengikat militer dan kretek: Soepardjo Rustam. Mantan ajudan setia Jenderal Soedirman ini pernah bergerilya bersama sang panglima di belantara Kediri. Kelak ia menjadi Gubernur Jawa Tengah (1974–1982) dan Menteri Dalam Negeri (1983–1988).