Kisah haru Buya Hamka memaafkan Soekarno, membalas luka penjara dengan ketulusan mengimami salat jenazah sang sahabat.
KOSONGSATU. ID – Suatu sore pada bulan Juni 1970, ulama besar Muhammadiyah sekaligus penulis Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka, tengah bercengkerama bersama keluarganya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Suasana hangat itu mendadak berubah ketika Sekretaris Jenderal Departemen Agama RI, Kafrawi, datang bersama Mayor Jenderal TNI Soeryo.
Dua tamu tersebut membawa kabar duka sekaligus sebuah amanat berat. Mereka mengabarkan bahwa mantan Presiden RI pertama, Soekarno, baru saja menghembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Soebroto.
Lebih mengejutkan lagi, Soekarno meninggalkan wasiat khusus: ia meminta Buya Hamka menjadi imam salat jenazahnya. Tanpa ragu sedikit pun, Buya Hamka langsung bergegas menuju Wisma Yaso dengan raut wajah penuh duka.
Jeruji Besi dan Tuduhan Keji
Keputusan Buya Hamka sontak memicu penolakan, bahkan dari putranya sendiri, Afif Hamka. Keberatan ini bukan tanpa alasan. Bertahun-tahun sebelumnya, tepat pada 27 Januari 1964 saat bulan Ramadan, pemerintahan Soekarno menjemput paksa Hamka dari rumahnya.
Sang ulama dituduh merencanakan pembunuhan terhadap Bapak Proklamator tersebut. Selama 15 hari pertama penahanannya di Sukabumi, petugas menginterogasinya tanpa henti dari siang hingga malam. Soekarno akhirnya menahan Hamka selama dua tahun empat bulan tanpa proses pengadilan yang semestinya.
Penderitaan tidak berhenti di balik jeruji besi. Pemerintah melarang buku-buku karangan Hamka beredar. Akibatnya, keluarga Hamka kehilangan sumber nafkah utama hingga sang istri terpaksa menjual barang-barang peninggalan dan perhiasan demi menyambung hidup.
Tafsir Al-Azhar: Berkah di Balik Musibah
Menariknya, Hamka sama sekali tidak menyimpan amarah. Ulama asal Minang ini justru menerima takdir penjara dengan lapang dada. Ia memandang masa tahanan sebagai karunia yang luar biasa.
Di balik dinginnya jeruji besi, Hamka berhasil menyelesaikan mahakaryanya, Tafsir Al-Azhar 30 juz. Karya agung ini kelak menjadi rujukan penting khazanah keislaman di berbagai negara Asia.
“Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu,” ujar Hamka dengan penuh kesantunan kepada kawan-kawannya yang mempertanyakan keputusannya.
Makna Persahabatan yang Sesungguhnya
Hubungan Hamka dan Soekarno sejatinya bermula dari persahabatan erat pada zaman perjuangan. Keduanya saling mengagumi, terutama ketika Soekarno melewati “fase Islamis” saat masa pembuangan di Bengkulu. Sayangnya, perbedaan pandangan politik pada pertengahan 1950-an, terutama saat Soekarno menggagas Demokrasi Terpimpin yang mesra dengan golongan komunis, membuat keduanya pecah kongsi.
Meski jalurnya berbeda, nilai persahabatan di mata Hamka tidak pernah luntur. Puluhan tahun sebelumnya, dalam buku Falsafah Hidup, Hamka telah menggarisbawahi prinsip berteman yang tulus. Mengutip Umar bin Khattab, Hamka menulis bahwa kita harus tetap berprasangka baik kepada sahabat sampai ada bukti jelas, dan jangan segera menyalahkan jika masih ada uzur atas kesalahannya.
Hamka membuktikan tulisan tersebut. Ia memisahkan pertentangan pemikiran politik dengan hubungan antarkawan. Ia tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai “sahabat presiden” untuk mencari keuntungan saat Soekarno berkuasa. Sebaliknya, ia membuktikan kesetiaannya saat sang kawan jatuh, dilucuti kekuasaannya, dan telah tiada.
Menghapus Dendam, Menebar Rahmat
Ketika kawan-kawannya menyayangkan keputusannya menyalatkan Soekarno, Hamka menjawab dengan prinsip tauhid yang teguh. Bagi Hamka, sampai akhir hayatnya, Soekarno tetaplah seorang muslim yang berhak menerima penyelenggaraan jenazah yang layak.
Lebih dari itu, Hamka menolak memelihara dendam karena dendam adalah perbuatan dosa. Alih-alih mengingat penderitaan di penjara, Hamka lebih memilih mengingat jasa besar Soekarno bagi umat Islam, seperti pembangunan Masjid Baiturrahim di Istana Negara dan Masjid Istiqlal. Ia senantiasa berdoa agar kebaikan tersebut meringankan dosa-dosa Soekarno di hadapan Tuhan.
Kisah perseteruan dan perdamaian antara Buya Hamka dan Soekarno memberikan teladan tak lekang oleh waktu bagi bangsa Indonesia. Hamka membuktikan bahwa Islam sungguh mengajarkan prinsip rahmatan lil ‘alamin—agama yang membawa kedamaian, bukan kebencian. Memelihara dendam hanya akan menghancurkan diri dari dalam, sementara memaafkan adalah bentuk kemenangan jiwa yang paling tinggi.***
Daftar Pustaka
- Dahm, Bernhard. (1987). Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan. (Terjemahan).
- Hamka. (1951). Kenang-kenangan Hidup IV.
- Hamka. (2015). Falsafah Hidup. Republika Penerbit. (Cetakan ulang).
- Hamka, Irfan. (2013). Ayah… Kisah Buya Hamka. Jakarta: Republika Penerbit.
- Rusjdi. (1981). Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka. Jakarta: Pustaka Panjimas.
- Catatan dari webinar PP Muhammadiyah (Awal 2021) dengan narasumber Afif Hamka.






Tinggalkan Balasan