Ketika satu algoritma bisa menggantikan pekerjaan seribu orang lebih, pertanyaannya bukan lagi soal produktivitas.

Tapi soal ke mana perginya nilai kolektif yang selama ini jadi bantalan sosial masyarakat Indonesia menghadapi krisis ekonomi.

Pemerintah Turun Tangan, tapi Basisnya Masih Dialog

Merespons keresahan publik, Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan, Said Iqbal, akan turun langsung mencari fakta ke lapangan.

Ia menggandeng Kementerian Ketenagakerjaan sebelum pemerintah mengambil langkah lanjutan.

Said menekankan pendekatan dialog lebih diutamakan ketimbang tindakan represif.

Ia mencontohkan keberhasilan pendekatan serupa yang pernah menyelamatkan sekitar 4.000 pekerja dari ancaman PHK melalui fasilitasi pemerintah.

Pendekatan ini sebetulnya mencerminkan semangat musyawarah, kearifan Nusantara yang mengutamakan penyelesaian konflik lewat perundingan.

Tapi ada batas yang perlu diakui jujur: musyawarah efektif ketika berhadapan dengan manusia yang kepentingannya bisa dinegosiasikan.

Ketika lawan bicaranya adalah efisiensi algoritma yang berjalan di server luar negeri, ruang dialog itu jadi jauh lebih sempit.

Catatan validasi: angka 90 persen PHK Tokopedia yang beredar di publik masih rumor, belum dikonfirmasi resmi oleh perusahaan atau Kemenaker per Sabtu (4/7/2026).

Yang terverifikasi dari sumber industri adalah penyusutan tim engineer dari sekitar 1.100 menjadi sekitar 35 orang.

Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah AI akan mengambil alih pekerjaan manusia — itu sudah terjadi.

Pertanyaannya, apakah nilai kolektif yang selama ini jadi identitas kerja orang Indonesia bisa bertahan.

Atau justru ikut terhapus bersama baris-baris kode yang menggantikan meja kerja para insinyur itu.***