Dari 1.100 insinyur, Tokopedia kini tersisa 35 kursi. AI agentic asal China jadi tersangka utama gelombang PHK. Masihkah gotong royong punya tempat di ekonomi digital?

KOSONGSATU.ID – Akhir pekan ini, publik dihebohkan kabar PHK massal di Tokopedia. Rumor menyebut hingga 90 persen karyawan terkena PHK.

TikTok Indonesia hanya mengonfirmasi ada penyesuaian organisasi, tanpa merinci jumlah karyawan yang terdampak.

Angka pastinya masih simpang siur. Tapi ketidakjelasan ini sendiri jadi masalah, karena ribuan pekerja hidup dalam ketidakpastian.

Yang lebih menarik dari angka PHK adalah penyebabnya.

Versi baru Tokopedia disebut kini sepenuhnya memakai sistem back-end internal TikTok Shop, hanya antarmuka lama yang dipertahankan.

Sumber industri menyebut lebih dari 450 karyawan teknologi terdampak pada gelombang PHK terakhir.

Jumlah engineer yang sebelumnya sekitar 1.100 orang, kini disebut tinggal sekitar 35 orang saja.

Sebagian besar pekerjaan itu dialihkan ke tim ByteDance di luar negeri, terutama di China.

Bagaimana mungkin platform sebesar Tokopedia bisa jalan dengan tim teknologi yang menyusut drastis?

Dugaan kuatnya ada pada satu istilah yang belakangan jadi momok dunia kerja: AI agentic.

Dalam skema ini, satu insinyur senior dibantu beberapa agen kecerdasan buatan bisa mengerjakan tugas yang dulu butuh belasan orang.

Bukan lagi AI membantu manusia bekerja lebih cepat, tapi AI yang menggantikan struktur tim itu sendiri.

Ketika Efisiensi Mesin Berhadapan dengan Etos Gotong Royong

Di sinilah ironi budaya muncul.

Dalam falsafah Nusantara, terutama tradisi masyarakat agraris dan nelayan, kerja bukan sekadar transaksi tenaga dan upah.

Gotong royong menempatkan kerja sebagai ikatan sosial: sawah digarap bersama, rumah dibangun bergiliran, hasil dibagi menurut kepatutan.

Nilai ini lahir dari kebutuhan bertahan hidup kolektif, di mana setiap anggota komunitas punya arti, bukan sekadar unit produksi yang bisa diganti.

AI agentic membalik logika itu sepenuhnya.

Ia tidak butuh dihormati, tidak butuh dirawat hubungan sosialnya, dan tidak butuh rasa memiliki terhadap tempatnya bekerja.

Ketika satu algoritma bisa menggantikan pekerjaan seribu orang lebih, pertanyaannya bukan lagi soal produktivitas.

Tapi soal ke mana perginya nilai kolektif yang selama ini jadi bantalan sosial masyarakat Indonesia menghadapi krisis ekonomi.

Pemerintah Turun Tangan, tapi Basisnya Masih Dialog

Merespons keresahan publik, Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan, Said Iqbal, akan turun langsung mencari fakta ke lapangan.

Ia menggandeng Kementerian Ketenagakerjaan sebelum pemerintah mengambil langkah lanjutan.

Said menekankan pendekatan dialog lebih diutamakan ketimbang tindakan represif.

Ia mencontohkan keberhasilan pendekatan serupa yang pernah menyelamatkan sekitar 4.000 pekerja dari ancaman PHK melalui fasilitasi pemerintah.

Pendekatan ini sebetulnya mencerminkan semangat musyawarah, kearifan Nusantara yang mengutamakan penyelesaian konflik lewat perundingan.

Tapi ada batas yang perlu diakui jujur: musyawarah efektif ketika berhadapan dengan manusia yang kepentingannya bisa dinegosiasikan.

Ketika lawan bicaranya adalah efisiensi algoritma yang berjalan di server luar negeri, ruang dialog itu jadi jauh lebih sempit.

Catatan validasi: angka 90 persen PHK Tokopedia yang beredar di publik masih rumor, belum dikonfirmasi resmi oleh perusahaan atau Kemenaker per Sabtu (4/7/2026).

Yang terverifikasi dari sumber industri adalah penyusutan tim engineer dari sekitar 1.100 menjadi sekitar 35 orang.

Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah AI akan mengambil alih pekerjaan manusia — itu sudah terjadi.

Pertanyaannya, apakah nilai kolektif yang selama ini jadi identitas kerja orang Indonesia bisa bertahan.

Atau justru ikut terhapus bersama baris-baris kode yang menggantikan meja kerja para insinyur itu.***