Meskipun risiko penyebaran internasional dinilai rendah, tingkat kematian virus Nipah yang mencapai 75% memicu kewaspadaan global. Indonesia resmi tingkatkan surveilans pasca-laporan kasus di India dan Bangladesh.
KOSONGSATU.ID — Dunia kesehatan kembali memperhatikan Asia Selatan, setelah World Health Organization (WHO) melaporkan kemunculan kembali kasus virus Nipah di India dan Bangladesh pada awal Februari 2026.
Meski belum ada indikasi penyebaran lintas negara, tapi bila mengingat karakteristik virus ini mematikan, otoritas kesehatan di berbagai negara meresponsnya dengan cepat—termasuk Indonesia.
WHO melaporkan ada dua kasus terkonfirmasi di West Bengal, India, yang menyerang tenaga kesehatan. Sementara di Bangladesh, satu kasus kematian dilaporkan pada 6 Februari 2026. Pasien diketahui mengonsumsi nira kurma mentah (raw date palm sap) yang terkontaminasi air liur kelelawar.
Mengenal Bahaya dan Penularan Nipah
Virus Nipah adalah penyakit zoonotik yang ditularkan dari hewan ke manusia. Berdasarkan data WHO dan CDC, berikut ini fakta kunci yang perlu diketahui masyarakat:
Penularan. Virus ini menular Melalui konsumsi makanan/minuman yang terkontaminasi urin atau air liur kelelawar buah (Pteropus), kontak langsung dengan hewan sakit (seperti babi), serta kontak erat dengan cairan tubuh manusia yang terinfeksi.
Tingkat Kematian. Sangat tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung pada kualitas perawatan medis yang diterima.
Gejala. Awalnya menyerupai flu (demam, nyeri otot, mual). Namun, dalam kondisi berat, dapat berkembang cepat menjadi radang otak (ensefalitis), kejang, hingga koma dalam waktu 24-48 jam.
Surat Edaran Kewaspadaan
Menyikapi dinamika di Asia Selatan, Kementerian Kesehatan RI telah menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/445/2026 tertanggal 30 Januari 2026.
Hingga saat ini, tidak ada laporan kasus terkonfirmasi Nipah pada manusia di Indonesia. Namun demikian, pemerintah meningkatkan pengawasan karena keberadaan kelelawar buah di Indonesia secara serologis pernah ditemukan membawa virus serupa.
Fokus utama Kemenkes saat ini ada dua, yaitu:
- Penguatan Surveilans: Pemantauan ketat terhadap kasus meningitis, ensefalitis, dan pneumonia berat yang tidak diketahui penyebabnya.
- Pintu Masuk Negara: Peningkatan pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional dari wilayah terdampak.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh hoaks, namun tetap mengutamakan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Deteksi dini dan penanganan medis cepat tetap menjadi kunci keselamatan menghadapi virus dengan fatalitas tinggi ini.***





Tinggalkan Balasan