Pertemuan rahasia 2015 di New York ungkap strategi besar Iran: bukan dogma agama, melainkan doktrin ‘kelelahan’ ala filsuf Jerman, Immanuel Kant.


Oleh: Faried Wijdan | Penulis KosongSatuID

Pertemuan antara dua diplomat senior dari kubu yang berseberangan itu terjadi di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2015. Di sana, Henry Kissinger, maestro diplomasi Amerika Serikat yang dikenal dengan pendekatan realisnya, duduk berhadapan dengan seorang elite Iran. 

Kissinger mengajukan pertanyaan yang selama puluhan tahun menjadi teka-teki bagi Washington: kapan Iran akan berhenti menjadi gerakan revolusioner dan mulai bertindak sebagai negara-bangsa yang pragmatis? 

Namun, jawaban yang diterimanya bukanlah retorika politik biasa.

Ali Larijani, negosiator nuklir Iran saat itu, justru menggeser kerangka dialog. Ia tidak menjawab pertanyaan tentang kapan Iran akan berubah, melainkan balik bertanya: kapan Amerika Serikat akan lelah? 

Jawaban ini membawa percakapan mereka pada pemikiran Immanuel Kant, terutama gagasan Perpetual Peace atau perdamaian abadi.

Bagi Larijani, seorang doktor filsafat yang menulis tesis tentang Kant serta menerjemahkan karya filsuf Königsberg itu ke dalam bahasa Persia, perdamaian bukanlah kondisi alami. Ia mengutip Kant: perang akan terus berlangsung hingga satu pihak merasakan biaya yang terlalu mahal dan akhirnya kelelahan.

Ketika Strategi Bertemu Filsafat

Pertemuan itu kemudian didokumentasikan dalam buku karya Vali Nasr, seorang profesor hubungan internasional, yang berjudul Iran’s Grand Strategy: A Political History. Nasr menggambarkan bagaimana percakapan tersebut membongkar asumsi Barat yang kerap mereduksi kebijakan luar negeri Iran sebagai semata-mata didorong oleh fanatisme agama.

Larijani, yang dikenal sebagai politikus dengan latar belakang akademis kuat—lulusan Matematika dan Ilmu Komputer dari Universitas Teknologi Sharif serta meraih gelar doktor di bidang filsafat dari Universitas Teheran—melihat strategi besar negaranya melalui kacamata rasionalitas . Baginya, logika perlawanan bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen untuk menciptakan struktur perdamaian baru.

“War itself becomes gradually more destructive and costly, so that states must eventually feel compelled to abandon it,” demikian bunyi logika Kant yang dikutip dalam narasi pertemuan itu .

Konsep ini kemudian diterjemahkan Teheran menjadi strategi daya tahan (*endurance*). Tujuannya bukan kemenangan cepat, melainkan membuat biaya konflik bagi Amerika Serikat terus meningkat hingga tidak lagi rasional untuk dilanjutkan .

Sosok di Balik Retorika Keras

Ali Larijani bukanlah sosok biasa dalam struktur kekuasaan Iran. Lahir di Najaf, Irak, pada 1958, ia berasal dari keluarga berpengaruh yang dijuluki “Kennedy-nya Iran” . Meski dikenal sebagai konservatif pragmatis, ia adalah satu dari sedikit elite politik yang fasih dalam perpaduan antara doktrin keamanan dan pemikiran filosofis Barat.

Menurut catatan Roman Seidel, seorang peneliti filsafat Jerman, Larijani memang menulis tiga buku tentang filsafat teoretis Kant, termasuk soal filsafat matematika dan ilmu pengetahuan alam . Namun, Seidel mencatat bahwa meskipun memahami Kant, Larijani jarang menerapkan etika moral sang filsuf dalam praktik politiknya.

Kissinger sendiri, dalam berbagai catatan, mengakui bahwa percakapan itu membuatnya tertegun. Seorang elite dari negara yang ia anggap irasional ternyata berbicara dalam bahasa strategi yang sangat dingin dan terukur.

Kini, lebih dari satu dekade setelah pertemuan itu, Ali Larijani telah tiada. Ia dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel di Teheran pada 17 Maret 2026 . Namun, dialog antara Kissinger dan Larijani tetap menjadi artefak penting yang menunjukkan bahwa di balik konflik terbuka, terdapat pertarungan nalar yang terus berlangsung.***