​Ketua Umum PBNU periode 2010-2021, KH Said Aqil Siroj, mengungkapkan bahwa inisiatif pembangunan Masjid Istiqlal datang langsung dari KH Wahid Hasyim pada tahun 1950.

​”Istiqlal dibangun atas idenya KH Wahid Hasyim tahun 1950. Ia usul kepada Presiden Soekarno, dinamakan Al-Istiqlal, masjid kemerdekaan,” terang Kiai Said.

​Bung Karno merespons gagasan itu dengan antusiasme tinggi. Beliau lantas memutuskan lokasi masjid berdiri di bekas benteng Belanda Taman Wilhelmina, yang letaknya tepat berseberangan dengan Gereja Katedral. Melalui keputusan ini, Soekarno ingin memperlihatkan wajah kerukunan umat beragama di Indonesia kepada dunia internasional.

Pemancangan tiang pertama akhirnya terlaksana pada 26 Agustus 1961, menjadikan Istiqlal berdiri tegak sebagai simbol abadi kemerdekaan, rasa syukur, dan persatuan.

​Rangkaian kisah Soekarno dan KH Wahid Hasyim—dari isyarat spiritual ulama hingga realisasi kenegaraan—membuktikan bahwa harmoni antara visi nasionalisme dan nilai agama mampu melahirkan fondasi negara yang amat kokoh.

Mereka tidak sekadar merangkai narasi toleransi, melainkan mempraktikkan gotong royong politik tingkat tinggi demi tegaknya kedaulatan Indonesia.

​Generasi masa kini memikul tanggung jawab sejarah untuk merawat warisan luhur tersebut. Meminjam pesan Puan Maharani, kita wajib meneruskan perjuangan mereka dan menjadikan keteladanan kedua tokoh besar ini sebagai energi positif untuk memajukan kehidupan berbangsa.***


​Daftar Rujukan:

  • ​Aboebakar. (1957). Sedjarah Hidup KHA Wahid Hasjim dan Karangan jang Tersiar.
  • ​Feillard, Andree. (1999). NU vis a vis Negara. Yogyakarta: LKiS.
  • Niam, Achmad Mukafi. (2017). NU dalam Sikap, Gerak, dan Langkah 2017. NU Online.
  • Sitompul, Einar Martahan. (2010). NU dan Pancasila.
  • Sukarno, Dian. (2021). Candradimuka: Trilogi Spiritualitas Bung Karno.
  • Sutjianingsih. (1984). KH Wahid Hasyim: Riwayat Hidup dan Perjuangannya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Tempo, Tim Buku. (2011). Wahid Hasyim untuk Republik dari Tebuireng. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.