Pandangan serupa juga datang langsung dari ayahanda KH Wahid Hasyim, yakni Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Di lingkungan internal keluarga Tebuireng, konon ada yang pernah bertanya kepada Kiai Hasyim mengenai kemungkinan KH Wahid Hasyim memimpin negeri ini sebagai presiden.
Kiai Hasyim dengan tenang menjawab agar hal itu tidak usah diangan-angankan (ojo diarep-arep). Beliau menegaskan bahwa posisi presiden sudah menjadi takdir atau “jatah” Soekarno. Keyakinan mendalam inilah yang membuat Bung Karno begitu menghormati Kiai Hasyim dan kerap meminta pertimbangannya saat akan mengambil keputusan penting negara.
Mengawal Kemerdekaan dan Merumuskan Pancasila
Selain ikatan batin yang kuat, kedua tokoh ini kerap berdiskusi intens merumuskan dasar negara. Akhir Mei 1945, sebuah pertemuan penting berlangsung di kediaman Mohammad Yamin. Tokoh-tokoh Islam seperti KH Wahid Hasyim, KH Masjkur, dan KH Abdoel Kahar Moezakir berkumpul, disusul kehadiran Bung Karno.
Mereka berdialektika mencari titik temu agar umat Islam bisa membela tanah air secara utuh tanpa memecah belah persatuan bangsa. Menteri Agama ke-6 RI, KH Masjkur, merekam momen tersebut dalam sebuah kesaksian sejarah.
Menurut Kiai Masjkur, rumusan kelima sila Pancasila sesungguhnya menyerap esensi ajaran tauhid dan muamalah Islam. Bung Karno merumuskan nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan Sosial dari akar tradisi luhur bangsa Indonesia yang sejalan dengan napas keislaman.
Dalam buku NU vis a vis Negara karya Andree Feillard, Kiai Masjkur menegaskan pandangan umat Islam terhadap Pancasila: “Kita umat Islam mengatakan kalau dasar Islam itu isim (nama, istilah) yang diambil, kalau Pancasila itu musamma (substansi, isi) yang diambil (dari Islam).”
Pada titik inilah KH Wahid Hasyim tampil sebagai jembatan penengah yang brilian. Ia mampu menjabarkan rumusan Pancasila secara teologis dan filosofis. Baginya, sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan representasi murni dari konsep tauhid.
Hal ini mengunci perdebatan, menegaskan bahwa umat Islam tak punya celah untuk menolak Pancasila, karena negara justru menjamin hak menjalankan keyakinan beragama secara adil.
Gagasan Masjid Istiqlal: Simbol Syukur Kemerdekaan
Kebersamaan Bung Karno dan KH Wahid Hasyim terus berlanjut di masa kemerdekaan. Saat Kiai Wahid menjabat sebagai Menteri Agama di kabinet Soekarno, lahirlah ide visioner untuk membangun sebuah masjid kebanggaan nasional.




Tinggalkan Balasan