Di balik ketegasan Soekarno, ada sosok Abdurachim, guru spiritual asal Petojo Selatan yang menuntun batinnya kala badai politik meruntuhkan tahtanya.


KOSONGSATU. ID – Bung Karno terkenal sebagai sosok pemimpin yang tegas dan berapi-api di mimbar. Namun, di balik panggung politik yang riuh, sang Proklamator sering kali mencari ketenangan batin. Ia kerap mendengarkan nasihat serta arahan guru spiritualnya sebelum mengambil keputusan krusial.

Publik mungkin lebih familier dengan nama Sosrokartono, tetapi Soekarno juga menaruh hormat yang sangat dalam kepada Abdurachim, seorang penasihat spiritual asal Banten yang menetap di Petojo Selatan, Jakarta.

Hubungan Soekarno dan Abdurachim melampaui kedekatan biasa antara seorang presiden dan penasihatnya. Mereka memiliki ikatan batin yang sangat kuat dan saling berpaut. Abdurachim pernah bercerita bahwa ia merasakan resonansi emosi yang sama dengan sang Presiden.

Layaknya kedekatan Bung Karno dengan Sosrokartono, perasaan mereka seolah menyatu. Ketika Bung Karno bersedih menghadapi peliknya urusan negara, Abdurachim di Petojo Selatan turut merasakan kepedihan tersebut. Sebaliknya, saat sang Presiden bergembira, rasa sukacita itu juga langsung mengalir membasuh batin Abdurachim.

Utusan Khusus ke Petojo Selatan

Begitu dekatnya hubungan mereka, Soekarno selalu menaruh perhatian besar pada kondisi sang guru. Wakil Komandan Tjakrabirawa, Maulwi Saelan, bersaksi bahwa ia pernah mendapat mandat langsung dari Bung Karno. Tugasnya saat itu cukup spesifik: menjenguk Abdurachim yang dikabarkan sedang terbaring sakit keras.

Setibanya di kediaman sang guru, Maulwi Saelan justru menemukan sosok yang sangat tegar. Abdurachim menitipkan pesan balasan agar Bung Karno tidak perlu mencemaskan kesehatannya. Bagi Abdurachim, penyakit yang ia derita hanyalah sebuah ujian dari Yang Mahakuasa, dan ia menerimanya dengan lapang dada tanpa keluh kesah.

Pesan Terakhir di Tengah Badai Politik

Memasuki tahun 1967, awan gelap menyelimuti Istana Negara. Pasca-peristiwa kelam 1965, gelombang demonstrasi mahasiswa menuntut Tritura menggema tanpa henti di jalanan ibu kota. Tekanan politik mengurung Soekarno dari berbagai penjuru, menciptakan dualisme kepemimpinan yang perlahan namun pasti melucuti otoritas kekuasaannya.

Di tengah situasi yang mencekam dan penuh ketidakpastian itulah, Abdurachim yang kesehatannya semakin menurun menyempatkan diri menemui Bung Karno di guesthouse Istana. Pertemuan haru ini menjadi tatap muka terakhir mereka sebelum Abdurachim mengembuskan napas terakhir pada 28 Maret 1967.

Dalam momen perpisahan tersebut, Abdurachim menyelipkan pesan spiritual yang sangat mendalam. Menyadari realitas politik yang kian menyudutkan sang Presiden, ia meminta Bung Karno untuk mulai belajar ikhlas dan menyerahkan tampuk kepemimpinan bangsa kepada tokoh lain. Sang guru juga melihat kondisi fisik Bung Karno yang telah menginjak usia 65 tahun dan semakin rapuh dimakan beban pikiran. Ia menyarankan agar Presiden mundur dari palagan politik dan berfokus memulihkan diri.

“Bung Karno harus lebih serius mengurus kesehatan dan berusaha berobat ke luar negeri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tutur Abdurachim, sebagaimana tercatat dalam buku kesaksian Maulwi Saelan.

Berakhirnya Sebuah Era

Nasihat terakhir sang guru mengiringi kejatuhan tragis sang Proklamator. Tepat pada bulan yang sama dengan wafatnya Abdurachim, Sidang Istimewa MPRS secara resmi mencabut mandat kekuasaan Soekarno. Berakhirlah era kepemimpinan sang Putra Sang Fajar yang telah merajut jalannya sejarah Indonesia selama 22 tahun.

Soekarno menghabiskan sisa usianya dalam status tahanan politik yang sunyi, terus mendekatkan diri kepada Tuhan sesuai pesan sang guru, hingga akhirnya wafat pada 21 Juni 1970 dan dikebumikan di Blitar, Jawa Timur.

Memahami dimensi ini, Sejarawan Asvi Warman Adam dalam berbagai kajian rekam jejak historisnya kerap menyoroti bahwa Soekarno memang tidak bisa terlepas dari akar spiritual. “Dalam tradisi politik Nusantara, seorang pemimpin sering kali membutuhkan jangkar kejiwaan.

Kedekatan Soekarno dengan tokoh-tokoh spiritual membuktikan bahwa di balik rasionalitas politik dan ketegasannya, ia tetaplah manusia yang butuh sandaran batin dalam menghadapi krisis tragis di ujung kekuasaannya,” terang pandangan historis tersebut.***


Daftar Pustaka

  • Saelan, Maulwi. (2001). Dari Revolusi ’45 Sampai Kudeta ’66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa. Jakarta: Yayasan Pendidikan Soekarno.