Di tengah situasi yang mencekam dan penuh ketidakpastian itulah, Abdurachim yang kesehatannya semakin menurun menyempatkan diri menemui Bung Karno di guesthouse Istana. Pertemuan haru ini menjadi tatap muka terakhir mereka sebelum Abdurachim mengembuskan napas terakhir pada 28 Maret 1967.

Dalam momen perpisahan tersebut, Abdurachim menyelipkan pesan spiritual yang sangat mendalam. Menyadari realitas politik yang kian menyudutkan sang Presiden, ia meminta Bung Karno untuk mulai belajar ikhlas dan menyerahkan tampuk kepemimpinan bangsa kepada tokoh lain. Sang guru juga melihat kondisi fisik Bung Karno yang telah menginjak usia 65 tahun dan semakin rapuh dimakan beban pikiran. Ia menyarankan agar Presiden mundur dari palagan politik dan berfokus memulihkan diri.

“Bung Karno harus lebih serius mengurus kesehatan dan berusaha berobat ke luar negeri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tutur Abdurachim, sebagaimana tercatat dalam buku kesaksian Maulwi Saelan.

Berakhirnya Sebuah Era

Nasihat terakhir sang guru mengiringi kejatuhan tragis sang Proklamator. Tepat pada bulan yang sama dengan wafatnya Abdurachim, Sidang Istimewa MPRS secara resmi mencabut mandat kekuasaan Soekarno. Berakhirlah era kepemimpinan sang Putra Sang Fajar yang telah merajut jalannya sejarah Indonesia selama 22 tahun.

Soekarno menghabiskan sisa usianya dalam status tahanan politik yang sunyi, terus mendekatkan diri kepada Tuhan sesuai pesan sang guru, hingga akhirnya wafat pada 21 Juni 1970 dan dikebumikan di Blitar, Jawa Timur.

Memahami dimensi ini, Sejarawan Asvi Warman Adam dalam berbagai kajian rekam jejak historisnya kerap menyoroti bahwa Soekarno memang tidak bisa terlepas dari akar spiritual. “Dalam tradisi politik Nusantara, seorang pemimpin sering kali membutuhkan jangkar kejiwaan.

Kedekatan Soekarno dengan tokoh-tokoh spiritual membuktikan bahwa di balik rasionalitas politik dan ketegasannya, ia tetaplah manusia yang butuh sandaran batin dalam menghadapi krisis tragis di ujung kekuasaannya,” terang pandangan historis tersebut.***