Indonesia kehilangan lebih dari 10 juta hektar hutan dalam 20 tahun terakhir, menandai fase kritis krisis deforestasi nasional.
KOSONGSATU.ID—Lebih dari 10 juta hektar hutan di Indonesia hilang dalam 20 tahun terakhir. Pembukaan hutan menjadi area nonhutan itu dinilai memperbesar risiko bencana ekologis di berbagai wilayah.
Pemengaruh Jerome Polin mengulas besarnya angka deforestasi tersebut lewat pendekatan matematis. Ia menyampaikannya melalui unggahan Reels di akun Instagram @jeromepolin, Ahad (7/12/2025), merespons rangkaian bencana alam di Sumatera dan sekitarnya.
“Ternyata dalam 20 tahun terakhir, lebih dari 10 juta hektar hutan di Indonesia mengalami deforestasi. Sebenarnya itu seluas apa sih?” tulis Jerome dalam keterangannya.
Ia mengajak publik memahami skala kerusakan hutan secara konkret. Bukan sekadar angka statistik.
Jerome menegaskan, tanpa upaya penghijauan dan pengurangan deforestasi, dampaknya akan ditanggung masyarakat secara luas.
Hitungan Luas yang Dibuat Lebih Nyata
Dalam videonya, Jerome menjelaskan 10 juta hektar setara dengan 100 ribu kilometer persegi atau 100 miliar meter persegi. Angka itu ia turunkan secara matematis agar mudah dibayangkan.
“Kalau dikonversi ke meter persegi, jadinya 100 miliar meter persegi,” ujar Jerome.
Ia kemudian membandingkannya dengan luas lapangan sepak bola. Dengan asumsi satu lapangan seluas 7.140 meter persegi, deforestasi tersebut setara sekitar 14 juta lapangan sepak bola.
“Satu lapangan sepak bola itu 7.140 meter persegi. Jadi ini sekitar 14 juta lapangan,” katanya.
Jerome juga membandingkan luas hutan yang hilang dengan Pulau Bali. Dengan luas Bali sekitar 5.780 kilometer persegi, deforestasi 10 juta hektar hampir setara 18 kali Pulau Bali.
“Kalau dibandingkan Bali, hasilnya sekitar 17,7 kali,” jelasnya.
Ia menambahkan ilustrasi lain dengan jarak Bumi ke Bulan sekitar 384.400 kilometer. Secara teoritis, luas deforestasi tersebut cukup untuk membangun jalur darat dari Bumi ke Bulan hingga ratusan kali.
“Secara hitungan, bisa sampai sekitar 260 kali,” ujarnya.
Menurut Jerome, pendekatan ini menunjukkan bahwa deforestasi adalah kerusakan nyata, bukan sekadar deret angka.
“Ini bukan cuma angka, tapi hutan yang seharusnya melindungi kita dari banyak bencana,” tuturnya.
Data Resmi Deforestasi Indonesia
Statistik Kementerian Kehutanan 2025 mencatat deforestasi netto hutan Sumatera pada 2024 mencapai 78.030,6 hektar. Angka ini merupakan selisih deforestasi bruto dan hasil reforestasi.
Kementerian Kehutanan melaporkan luas hutan Indonesia pada 2024 mencapai 95,5 juta hektar atau 51,1 persen dari total daratan. Sebanyak 87,8 juta hektar berada di dalam kawasan hutan.
Deforestasi netto nasional pada 2024 tercatat 175,4 ribu hektar. Angka ini berasal dari deforestasi bruto 216,2 ribu hektar dikurangi reforestasi 40,8 ribu hektar.
Sebanyak 92,8 persen deforestasi bruto terjadi di hutan sekunder. Sekitar 69,3 persen di antaranya berlangsung di dalam kawasan hutan.
Sepanjang 2024, total deforestasi hutan Indonesia mencapai 175.437,7 hektar. Sekitar 44 persen terjadi di wilayah Sumatera.
Provinsi dengan deforestasi tertinggi di Sumatera adalah Riau sebesar 29.702,1 hektar. Disusul Aceh 11.208,5 hektar, Jambi 8.290,6 hektar, Sumatera Utara 7.034,9 hektar, dan Sumatera Barat 6.634,2 hektar.
Deforestasi netto Riau juga menjadi yang terbesar secara nasional. Angkanya melampaui Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.
Pemerintah menyebut deforestasi nasional menurun menjadi 166.450 hektar per September 2025. Penurunan itu diklaim sekitar 23 persen dibandingkan 2024.
Namun, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) memperkirakan deforestasi berpotensi melonjak hingga 600 ribu hektar. WALHI juga mencatat kebakaran hutan dan lahan mencapai 8.594 hektar hingga Juni 2025, terutama di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Riau.***




Tinggalkan Balasan