Harga kopi dunia merosot akibat banjir pasokan Brasil, sementara lada global tetap stabil.


KOSONGSATU.ID – Tren pasar komoditas perkebunan global menunjukkan dinamika yang kontras pada pertengahan Februari 2026. Harga kopi dunia dilaporkan terus mengalami tekanan jual yang signifikan akibat melimpahnya pasokan dari negara produsen utama, sementara harga lada di pasar spot internasional cenderung bergerak stabil di tengah proyeksi peningkatan produksi yang moderat.

Berdasarkan data real-time dari bursa komoditas global pada Minggu, 15 Februari 2026, kontrak berjangka kopi US Coffee C Futures diperdagangkan pada kisaran 298 hingga 300 per pon. Angka ini mencerminkan posisi harga yang melemah dibandingkan periode sebelumnya. 

Sejumlah indikator teknikal harian bahkan menunjukkan sinyal jual yang kuat (Strong Sell), menandakan bahwa sentimen pasar masih didominasi oleh kekhawatiran akan kelebihan pasokan di tingkat global.

Di pasar spot, harga kopi secara umum melandai ke level USD 296,25 per pon per 13 Februari 2026. Nilai ini turun sebesar 0,40 persen dibandingkan hari sebelumnya. Namun, jika menilik data jangka panjang, terlihat kemerosotan yang lebih tajam, yakni anjlok lebih dari 16,7 persen dalam satu bulan terakhir dan merosot hingga 29 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Kondisi ini memberikan tekanan besar bagi para pelaku usaha di sektor hilir yang bergantung pada fluktuasi harga komoditas ini.

Meskipun futures kopi Arabika (Maret) dan Robusta (Maret) sempat mencatatkan penguatan tipis masing-masing sebesar 0,13 persen dan 0,63 persen, para analis menilai kenaikan tersebut hanyalah technical rebound sesaat. Secara fundamental, tren pasar masih dinilai lemah karena didorong oleh peningkatan produksi besar-besaran di Brasil yang berperan sebagai penekan utama harga di pasar internasional.

Banjir Pasokan Brasil Tekan Harga Kopi

Laporan bulanan dari International Coffee Organization (ICO) menyoroti bahwa kenaikan volume ekspor dari Amerika Latin menjadi faktor krusial di balik melemahnya harga. Di tingkat domestik Indonesia, estimasi harga kopi dunia saat ini dikonversikan berada di kisaran Rp108.000 per kilogram untuk jenis Arabika dan sekitar Rp75.000 per kilogram untuk jenis Robusta. Harga ini mencerminkan tren penurunan yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Kondisi ini berbanding lurus dengan analisis teknikal yang menunjukkan bahwa pasar belum melihat adanya titik balik penguatan yang kuat. Para spekulan di bursa ICE dan CME terpantau masih sangat berhati-hati dalam mengambil posisi beli jangka panjang, mengingat indikator makroekonomi menunjukkan pasokan dari Brasil akan terus membanjiri pasar hingga kuartal kedua tahun ini.

“Peningkatan produksi di Brasil memberikan sentimen negatif terhadap harga kopi global secara sistemik. Kita melihat ada pergeseran beban pasokan yang cukup berat dari produsen ke pasar global,” ungkap perwakilan analis pasar komoditas dalam rilis data bursa terbaru.

Ketahanan Harga Lada Putih Indonesia

Berbeda dengan kopi yang sedang lesu, komoditas lada menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Berdasarkan laporan harian International Pepper Community (IPC) per 13 Februari 2026, harga lada global di pasar spot relatif stabil dengan fluktuasi yang sangat minim. Harga lada hitam (Black Pepper) asal Indonesia tercatat berada di kisaran USD 6.848 per metrik ton, sementara lada putih (White Pepper) Indonesia mencapai USD 9.270 per metrik ton.

Di pasar Asia Tenggara lainnya, lada hitam asal Vietnam diperdagangkan pada kisaran USD 6.400 hingga USD 6.600 per metrik ton. Meskipun ada sedikit penurunan dari sesi sebelumnya, pasar lada tidak mengalami volatilitas ekstrem seperti kopi. Hal ini dikarenakan mekanisme perdagangan lada yang mayoritas masih mengandalkan harga harian (spot price) ketimbang kontrak berjangka di bursa utama.

Bagi Indonesia, stabilitas ini merupakan kabar baik, terutama bagi petani di sentra produksi utama. Data harga lada putih di tingkat petani Bangka Belitung per Januari 2026 masih bertahan di angka Rp142.000 per kilogram. Harga ini menjadi patokan penting yang menunjukkan bahwa daya tawar lada Indonesia masih cukup kuat di tengah dinamika pasar pangan global.

Proyeksi dari IPC untuk sepanjang tahun 2026 memperkirakan produksi lada dunia akan mencapai angka sekitar 530 ribu ton. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan total produksi tahun lalu. Meskipun kenaikan pasokan ini berpotensi memberikan tekanan moderat pada harga di masa depan, para pengamat menilai pasar masih mampu menyerap volume tersebut tanpa memicu kejatuhan harga yang drastis.

Infografis dibuat menggunakan Gemini AI.

Strategi Menghadapi Fluktuasi Komoditas

Situasi pasar saat ini menuntut para eksportir dan petani lokal untuk lebih cermat dalam memantau data harian. Penurunan harga kopi yang mencapai 29 persen dalam setahun menjadi sinyal bagi para produsen untuk mulai mendiversifikasi strategi penjualan atau memperkuat kualitas produk guna mempertahankan margin keuntungan.

Di sisi lain, lada tetap menjadi komoditas unggulan yang menawarkan stabilitas lebih tinggi. Tantangan utama di tahun 2026 adalah bagaimana menjaga konsistensi kualitas produksi di tengah target peningkatan volume global sebesar 530 ribu ton tersebut. Para pelaku pasar komoditas saat ini lebih memilih untuk memantau data harian IPC dan Bappebti guna mengambil keputusan yang tepat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda lonjakan harga yang signifikan untuk kedua komoditas tersebut. Kopi masih bergulat dengan tren bearish atau netral, sementara lada berada dalam posisi stabil dengan kecenderungan fluktuasi moderat. Para investor di pasar komoditas diperkirakan akan terus memperhatikan angka produksi dari negara-negara produsen utama guna memprediksi arah pergerakan harga pada kuartal mendatang.***