FGSNI mendesak Kemenag merealisasikan kesejahteraan guru madrasah swasta di HAB ke-80.
KOSONGSATU.ID—Suara itu datang dari ruang kelas sederhana madrasah swasta. Dari guru yang bertahun-tahun mengajar dengan gaji pas-pasan, namun tetap menyalakan harapan. Di Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, aspirasi itu kembali disuarakan ke pusat.
Ketua Umum DPP Forum Sertifikasi Guru Nasional Indonesia (FGSNI) Agus Mukhtar menyatakan momentum HAB bukan sekadar seremoni, melainkan titik uji keberpihakan negara. Ia berharap Peraturan Menteri Agama Nomor 17 Tahun 2025 yang terbit 21 November 2025 benar-benar diwujudkan di lapangan.
“Terutama peningkatan kesejahteraan guru madrasah swasta yang diharapkan dapat menopang peningkatan kualitas pendidikan madrasah di Indonesia,” kata Agus kepada Samudrafakta, Sabtu (3/1/2026).
FGSNI menagih realisasi sejumlah agenda yang selama ini tertunda. Mulai dari penyelesaian Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2026 bagi sekitar 400 ribu guru, pengangkatan guru inpassing, pengakuan guru bersertifikat pendidik, hingga penyetaraan gaji guru inpassing setara PNS.
Selain itu, Agus menekankan pentingnya kenaikan tunjangan guru madrasah swasta dan pembukaan akses seleksi Pegawai Kontrak berdasarkan masa kerja serta status inpassing. “FGSNI akan terus bersuara menolak kebijakan diskriminatif terhadap guru madrasah swasta di Indonesia,” ujarnya.
HAB ke-80 Kemenag tahun ini mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”. Tema itu dibacakan dalam upacara di halaman kantor Kemenag, Jakarta, Sabtu (3/1/2026), yang berlangsung khidmat namun sarat makna.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh jajaran Kemenag menyatukan tekad melanjutkan semangat Kemenag Berdampak melalui aksi nyata. “Dengan fondasi yang kokoh, semangat pengabdian yang berdampak, serta penguasaan teknologi yang beretika, kita optimistis mampu mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang damai, maju, dan bermartabat,” pesannya.
Di antara barisan peserta upacara, harapan itu menggantung. Bahwa rukun dan sinergi bukan hanya slogan, melainkan terasa sampai ke ruang-ruang kelas madrasah swasta—tempat pengabdian sering berjalan lebih dulu daripada kesejahteraan.***




Tinggalkan Balasan