Sunan Bonang mewariskan tasawuf ekologis yang menempatkan alam sebagai sesama makhluk Tuhan.
KOSONGSATU.ID—Raden Makdum Ibrahim, yang lebih dikenal sebagai Sunan Bonang, menempati posisi unik dalam sejarah spiritual Jawa. Ia bukan hanya wali dan guru tasawuf, tetapi juga perumus etika ekologis yang berakar pada cinta, pengendalian diri, dan kesadaran kosmis.
Melalui suluk-suluknya, Sunan Bonang merajut tasawuf, nilai agama, dan tradisi lokal menjadi laku hidup yang mencegah kerusakan alam. Alam tidak ditempatkan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai sesama makhluk Tuhan yang hidup dan berzikir.
Sepotong Rumput yang Tercerabut
Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan peristiwa yang kelak mengubah hidup Brandal Lokajaya atau Raden Syahid. Saat hendak merampas tongkat emas Sunan Bonang di hutan Jatiwangi, sang wali terjatuh dan tanpa sengaja mencabut beberapa rumput liar.
Sunan Bonang justru menangis tersedu-sedu. Bukan karena tongkatnya dirampas, melainkan karena ia mencabut rumput tanpa manfaat. “Aku telah mengurangi makhluk Allah yang berzikir siang dan malam, dan mencabutnya secara sia-sia,” ujarnya.
Kisah ini, sebagaimana ditulis Ahmad Chodjim dalam Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat, menjadi titik balik kesadaran Raden Syahid. Ia memahami bahwa kezaliman sekecil apa pun terhadap makhluk hidup tetaplah kesalahan.
Alam sebagai Tajalli Tuhan
Ajaran ini ditegaskan dalam Suluk Wujil, yang ditranskripsi oleh Purbatjaraka dalam tulisan Soeloek Woedjil: De Geheime leer van Soenan Bonang (1938). Kepada Wujil, Sunan Bonang menempatkan alam sebagai tajalli Tuhan—manifestasi ilahi yang tidak boleh dirusak secara serampangan.
Kerusakan ekosistem, menurutnya, adalah akibat langsung dari tindakan manusia yang gagal mengendalikan hawa nafsu. Jagat raya, kata Sunan Bonang, “terbentang dalam diri”. Yang spiritual menentukan yang material, bukan sebaliknya.
Manusia diangkat sebagai khalifah bukan untuk menaklukkan alam, melainkan memakmurkannya.
Cinta sebagai Asas Penciptaan
Dalam Suluk Jebeng pupuh Dhandhanggula, Sunan Bonang menegaskan bahwa puncak ilmu adalah mengenali apa yang ada sebelum api menyala dan setelah api padam. Intinya adalah kesadaran akan asal dan tujuan.
Gagasan utama seluruh suluk Sunan Bonang adalah mahabbah—cinta. Dari cinta lahir kebaikan, dan ketika cinta lenyap, kerusakan merajalela. Tasawuf yang diajarkannya bukan eskapis, melainkan aktif dan militan dalam kehidupan sosial dan ekologi.
Tulisan di gerbang makam Sunan Bonang mengajarkan mencintai Rasulullah, yang dibuktikan dengan mencintai seluruh ciptaan, termasuk alam.

Petuah bagi Para Pemimpin
Sunan Bonang juga mewariskan etika kepemimpinan. Pemimpin harus melawan tiga musuh utama: cinta dunia, hawa nafsu, dan setan. Jika cinta dunia berkuasa, eksploitasi dan ketidakadilan menjadi halal.
Dalam bahasa hari ini, peringatan itu relevan dengan praktik izin tambang berlebihan, pembalakan liar, dan aktivitas ekstraktif yang mengorbankan ekologi dan rakyat.




Tinggalkan Balasan