Ketahanan Pangan Tanpa Menjual Beras
Larangan menjual beras menjaga komunitas dari ketergantungan pasar. Jika ada warga kekurangan, mereka bisa mengambil dari leuit bersama. Aturan ini membentuk solidaritas dan memastikan ketersediaan pangan merata.
Praktik ini juga mendorong pelestarian ekologi. Masyarakat hanya menanam satu kali per tahun, membiarkan tanah memulihkan diri secara alami. Mereka juga menjaga hutan di sekitar desa sebagai penopang siklus air.
‘Food Estate’ Ala Desa: Tanpa Babat Hutan
Kasepuhan Gelar Alam membuktikan bahwa swasembada tidak harus melalui pembukaan ribuan hektare hutan. Mereka membangun ketahanan pangan berbasis komunitas dengan huma (ladang) dan leuit (lumbung).
Setiap rumah memiliki lumbung padi pribadi, sementara desa memiliki leuit kolot sebagai cadangan. Mereka menyimpan lebih dari 300 varietas padi lokal yang tahan hama secara alami dan bernilai gizi tinggi.
Di tengah dunia yang cemas menghadapi krisis pangan, mereka nyaris tidak mengenal rawan pangan. Sistem ekonomi sirkular adat menjaga agar tidak ada pemborosan: sebagian hasil panen dikembalikan ke tanah, sebagian disimpan, sebagian dikonsumsi.
Kearifan lokal ini sekaligus menjadi contoh bahwa pertanian ramah lingkungan dapat berjalan tanpa merusak hutan. Prinsip “menjual padi sama dengan menjual nyawa” bukan sekadar metafora, tetapi strategi mempertahankan kehidupan dan



Tinggalkan Balasan