Kepengurusan baru MES ditantang membawa ekonomi syariah keluar dari ruang seminar menuju sektor riil yang terasa langsung di daerah.
KOSONGSATU.ID — Kepengurusan baru Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) periode 2026–2031 menghadapi pekerjaan besar: memastikan ekonomi syariah tidak berhenti sebagai agenda literasi, tetapi bergerak menjadi kekuatan sektor riil di daerah.
Dorongan itu disampaikan Ketua I Pengurus Daerah MES Pekalongan, Rinda Asytuti. Ia menilai pengurus baru MES perlu memperkuat program praktis, mulai dari pariwisata ramah muslim, produk halal, hingga sertifikasi juru sembelih halal.
Sektor Riil Jadi Ujian
“Kami menyambut baik kepemimpinan baru ini. Banyak harapan yang kami lambungkan agar laju program MES ke depan bisa lebih bersifat praktik untuk mewujudkan integrasi ekonomi syariah yang riil di Indonesia,” kata Rinda kepada KOSONGSATU.ID, Senin (25/5/2026).
Menurut Rinda, penguatan sektor riil tetap harus berjalan seimbang dengan literasi keuangan dan non-keuangan syariah. Program yang lebih praktis tidak boleh menurunkan mutu edukasi publik yang selama ini sudah dibangun MES.

APBN Jadi Kunci
Rinda juga menekankan pentingnya sinergi MES Pusat dengan pemerintah daerah. Menurut dia, ekosistem ekonomi syariah lokal hanya bisa tumbuh jika daerah dilibatkan secara serius dalam perencanaan dan pelaksanaan program.
“Sinergi dengan pemerintah daerah akan memberikan kontribusi positif yang masif bagi ekosistem lokal. Namun, hal ini juga membutuhkan political will yang kuat dari pemerintah pusat melalui dukungan APBN,” ujarnya.
Dengan usia MES yang telah memasuki 26 tahun, kepengurusan baru kini ditunggu bukan hanya memperluas narasi ekonomi syariah, tetapi membuktikan dampaknya dalam kehidupan ekonomi masyarakat.***




Tinggalkan Balasan