Di balik lahirnya Pancasila, terselip diskusi hangat hingga fajar menyingsing antara Soekarno dan KH Masjkur yang mengubah wajah Indonesia.
KOSONGSATU. ID – Malam itu, 31 Mei 1945, suasana di rumah Muhammad Yamin terasa sangat cair namun serius. Soekarno datang menemui para tokoh Islam yang sedang menginap di sana, termasuk KH Masjkur dan KH Wahid Hasyim. Di sanalah, sebuah dialog krusial terjadi. Masjkur mengenang bagaimana Bung Karno dengan rendah hati melempar pertanyaan pemantik tentang jati diri bangsa Indonesia.
Dari obrolan santai mengenai kebiasaan rakyat kecil hingga nilai-nilai ketuhanan yang sudah mengakar di bumi nusantara, kelima tokoh tersebut—Soekarno, Masjkur, Wahid Hasyim, Kahar Mudzakkir, dan Yamin—berdiskusi hingga dini hari. Pertemuan itu melahirkan kesimpulan tentang lima falsafah dasar negara. “Mau saya usulkan Pancasila. Awas kalau ada yang mengacau!” seloroh Bung Karno yang disambut tawa oleh KH Masjkur dan kawan-kawan sebelum mereka menutup malam dengan salat Subuh berjamaah.
Kepercayaan Sang Proklamator kepada Sang Kiai
Hubungan ini bukan sekadar rekan diskusi, melainkan kepercayaan politik yang sangat mendalam. Pasca-kemerdekaan, saat ibu kota pindah ke Yogyakarta pada November 1947, Soekarno memanggil khusus KH Masjkur. Bung Karno menginginkan sosok yang mampu menjembatani urusan agama dengan realitas lapangan yang sedang bergejolak.
Tak tanggung-tanggung, KH Masjkur tercatat menjabat sebagai Menteri Agama dalam lima kabinet berbeda di era Soekarno. Mulai dari Kabinet Amir Sjarifuddin II hingga Kabinet Ali Sastroamidjojo. Kedekatan ini pulalah yang membuat Masjkur dengan luwes menjalankan misi-misi sulit, seperti meredam gerakan DI/TII hingga membangun Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai fondasi administrasi umat di Indonesia.
Panglima Laskar yang Turun ke Medan Gerilya
Meski akrab dengan meja perundingan dan kursi menteri, KH Masjkur adalah sosok yang tidak bisa dipisahkan dari palagan perang. Saat Agresi Militer Belanda berkobar, ia menanggalkan jubah menterinya dan memimpin Laskar Hizbullah serta Sabilillah.



Tinggalkan Balasan