Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi tajam 1,04 persen dipicu aksi jual masif sektor transportasi.


KOSONGSATU.ID–Pasar modal Indonesia mengalami guncangan cukup hebat pada perdagangan Kamis (26/2/2026). Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup merosot 1,04 persen ke level 8.235,54 setelah sempat menguat di awal sesi.

Tekanan jual yang masif dari investor asing menjadi pemicu utama ambruknya indeks hari ini. Seluruh sektor saham terpantau masuk ke zona merah dengan tingkat penurunan yang bervariasi.

Kondisi ini mengejutkan pelaku pasar karena IHSG baru saja menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada awal pekan. Namun, sentimen negatif global dan domestik datang secara bersamaan sehingga memicu aksi ambil untung.

Nilai transaksi harian mencapai Rp14,2 triliun dengan volume perdagangan 22,4 miliar saham. Investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell sebesar Rp845,2 miliar di pasar reguler.

Sentimen Negatif Sektor Transportasi dan Logistik

Sektor transportasi dan logistik menjadi beban terberat bagi pergerakan indeks dengan penurunan tajam hingga 4,54 persen. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap kenaikan harga BBM industri dan perubahan regulasi tarif.

Emiten besar seperti PT Blue Bird Tbk (BIRD) dan PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) bahkan terkoreksi di atas 5 persen. Investor merespons negatif potensi penurunan margin keuntungan emiten transportasi di awal tahun ini.

Head of Equity Research Dana Sekuritas, Budi Santoso, menjelaskan bahwa penurunan ini merupakan respon langsung terhadap tekanan beban operasional.

Menurut Budi, pada Kamis (26/2/2026), anjloknya sektor transportasi sebesar 4,5 persen adalah dampak dari kenaikan harga BBM industri. Selain itu, revisi aturan tarif batas atas dianggap sangat memberatkan margin keuntungan emiten pada kuartal pertama tahun 2026.

Tekanan tidak hanya datang dari sisi internal, tetapi juga pengaruh kebijakan moneter global yang belum pasti.

Ketidakpastian mengenai kapan The Fed akan menurunkan suku bunga membuat investor cenderung mengalihkan aset mereka ke tempat yang lebih aman. Akibatnya, arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, tidak dapat dihindari sepanjang hari ini.

Sektor infrastruktur dan properti turut menyusul pelemahan dengan koreksi masing-masing sebesar 2,10 persen dan 1,88 persen.

Analis Senior Bursa Efek Indonesia, Sri Mulyati, dalam briefing pers penutupan pasar pada Kamis (26/2/2026) memberikan pandangannya.

Sri menyatakan bahwa meskipun IHSG terkoreksi 1,04 persen, level 8.200 masih menjadi area pendukung atau support yang cukup kuat. Ia menilai aksi ambil untung oleh investor asing adalah hal yang wajar mengingat penguatan indeks yang sudah sangat signifikan.

Berdasarkan Laporan Statistik Harian Bursa Efek Indonesia tanggal 26 Februari 2026, tercatat ada ketidakseimbangan suplai dan permintaan pada 382 saham. Sektor transportasi secara konsisten memimpin penurunan karena sensitivitasnya terhadap sentimen makroekonomi terbaru.

Jika IHSG gagal bertahan di atas level psikologis 8.200, pasar dikhawatirkan akan memasuki fase pembalikan arah menuju tren bearish. ***