Banjir besar Sumatera 2025 mengingatkan kembali pelajaran penting dari tsunami Aceh 2004.
KOSONGSATU.ID–Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November hingga awal Desember 2025 kembali menguji sistem penanggulangan bencana Indonesia. Skala pengungsian, dampak berlapis, serta hambatan akses membuat bencana ini menjadi salah satu yang terbesar dalam dua dekade terakhir.
Peristiwa itu sekaligus memunculkan kembali pertanyaan lama: apakah Indonesia sudah benar-benar belajar dari tragedi tsunami Aceh 2004?
Skala Dampak: Banjir 2025 dan Jejak Tsunami Dua Dekade Lalu
Data BNPB per 2 Desember 2025 pukul 23.28 WIB mencatat banjir bandang Sumatera menelan 744 korban meninggal, 551 orang hilang, dan lebih dari 2.600 orang luka-luka. Dampaknya meluas hingga 3,3 juta jiwa terdampak dan 1,1 juta warga mengungsi, menjadikannya salah satu peristiwa dengan jumlah pengungsi terbesar dalam sejarah Indonesia.
Sebagai pengingat, tsunami Aceh 2004 menelan korban jauh lebih besar. Data Pemerintah Aceh mencatat 129.775 korban meninggal dan 38.786 orang hilang pada tahun pertama, dengan total estimasi korban mencapai lebih dari 167.000 jiwa di Aceh dan Nias. Gelombang raksasa setinggi 30 meter menghancurkan pesisir barat Sumatera dalam hitungan menit.

Kekuatan Destruktif yang Berbeda, Tantangan yang Sama
Banjir 2025 bersifat berkepanjangan. Hujan ekstrem berhari-hari memicu longsor, luapan sungai, dan isolasi desa. Puluhan wilayah terputus akibat tumpukan lumpur, batu besar, dan batang kayu.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengakui skala kerusakan memperberat respons di lapangan.
“Saya tak mengira sebesar ini. Saya mohon maaf, Pak Bupati. Bukan berarti kami tidak peduli,” ujarnya saat meninjau Desa Aek Garoga, Tapanuli Selatan, Minggu (30/11/2025).
Tsunami 2004 berbeda karakter. Bencana terjadi dalam hitungan menit setelah gempa 9,1 SR. Desa hilang seketika, pelabuhan dan jalan terhapus dari peta, dan penanganan darurat membutuhkan dukungan internasional besar-besaran.
Respons Pemerintah: Sistem yang Berevolusi
Penanganan banjir Sumatera 2025 mengandalkan sistem yang dibangun pasca-2004: BNPB, BPBD, TNI/Polri, hingga jalur komando yang lebih jelas. Tantangan terberat bukan koordinasi, tetapi membuka akses dan memobilisasi logistik ke wilayah yang terputus.
Menteri PUPR Dody Hanggodo mengerahkan alat berat untuk membuka rute darurat. “Kami mendahulukan pembukaan jalur agar bantuan bisa bergerak,” katanya, Senin (1/12/2025).
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menyiapkan hunian darurat bagi warga terdampak.
“Kita siapkan rumah darurat untuk warga yang tempat tinggalnya hancur,” ujarnya dalam pernyataan tertulis (1/12/2025).
Pada 2004, pola respon sangat berbeda. Lebih dari 40 negara turun langsung memberikan bantuan. Rekonstruksi Aceh dikoordinasikan melalui BRR Aceh-Nias selama empat tahun. Dari bencana itu lahir InaTEWS, sistem peringatan dini tsunami Indonesia.




Tinggalkan Balasan