Umbi-umbian pernah menopang hidup orang Jawa sebelum kebijakan penjajahan dan pemerintah mengangkat beras sebagai simbol kemajuan.


KOSONGSATU.ID—Di banyak desa Jawa hari ini, uwi hampir tak lagi dikenali. Umbi berkulit kasar itu kerap dianggap tanaman liar di tepi kebun atau hutan kecil. Anak-anak jarang tahu rasanya, apalagi cara mengolahnya.

Padahal, jauh sebelum nasi menguasai meja makan, uwi pernah menjadi penyangga utama kehidupan orang Jawa.

Ia memberi makan keluarga, menjaga kesinambungan hidup, dan membentuk pola bertani yang lentur.

Jejak uwi tertanam dalam bahasa, pengetahuan lokal, hingga mitologi. Namun sejarah bergerak ke arah lain.

Satu pangan diangkat sebagai lambang kemajuan, sementara yang lain tersingkir perlahan dan sistematis.

Pangan Sebelum Pemerintah Hadir

Dalam masyarakat Jawa pra-sawah, pangan bukan soal pasar atau surplus. Ia soal bertahan hidup.

Uwi—bersama gembili, suweg, gadung, dan talas—menjadi sumber karbohidrat utama. Umbi-umbian ini tumbuh di ladang kering dan kebun campur, tanpa irigasi rumit dan kalender tanam ketat.

Kajian arkeologi dan etnohistori menunjukkan pola pangan berbasis umbi berkembang jauh sebelum abad ke-8 M, ketika sistem sawah basah mulai meluas. Pada fase ini, tidak ada satu komoditas yang mendominasi.

“Keanekaragaman pangan adalah bentuk kecerdasan ekologis masyarakat lama,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya.

Dalam konteks itu, uwi bukan pangan pinggiran. Ia pangan utama.

Sawah, Kekuasaan, dan Hirarki Makan

Perubahan mulai terasa ketika kerajaan-kerajaan agraris berkembang. Pada masa Mataram Kuno hingga Majapahit, sawah irigasi meluas. Namun beras belum menjadi konsumsi harian semua orang.

Prasasti-prasasti agraria mencatat beras memiliki fungsi simbolik dan politis. Ia dipakai sebagai upeti, bekal ritual, dan konsumsi elite istana. Rakyat kebanyakan tetap mengandalkan umbi dan palawija.

Dengan kata lain, beras adalah pangan kekuasaan.

Clifford Geertz dalam Agricultural Involution mencatat sawah sejak awal terikat dengan struktur kuasa. Siapa menguasai air, menguasai beras. Siapa menguasai beras, menguasai manusia.

Sejak titik ini, pangan berlapis secara sosial. Uwi tetap dimakan, tetapi kehilangan gengsi. Ia hidup, namun tersingkir dari narasi utama.

Penjajahan dan Rekayasa Selera

Pergeseran paling drastis terjadi pada abad ke-19. Penjajahan Belanda mengubah wajah pertanian Jawa melalui tanam paksa, perluasan irigasi, dan pajak.

Padi diposisikan sebagai komoditas strategis. Beras menjadi logistik birokrasi, tentara, dan pasar penjajah. Umbi-umbian dianggap tak efisien dan tak sejalan dengan ide “kemajuan” Eropa.

Narasi penjajahan membentuk stigma. Makan umbi dipersepsikan sebagai tanda kemiskinan dan keterbelakangan. Sebaliknya, nasi dipromosikan sebagai simbol modernitas.

Arsip Hindia Belanda mencatat penggantian kebun campur menjadi sawah monokultur. Pengetahuan lokal tentang gadung dan uwi diabaikan. Keyakinan baru pun tumbuh: belum makan kalau belum makan nasi.

Pascakemerdekaan yang Meneruskan Pola Rezim

Setelah kemerdekaan, politik pangan beras justru menguat. Demi stabilitas nasional, pemerintah menjadikan beras sebagai indikator kesejahteraan dan alat pengendali harga.

Program swasembada beras pada era Orde Baru memperkuat monokultur. Umbi-umbian tersingkir dari kebijakan dan imajinasi kolektif. Uwi berubah status menjadi pangan darurat.

Padahal secara gizi, uwi menyimpan potensi besar. Karbohidrat kompleks, serat tinggi, dan indeks glikemik relatif rendah. Umbi genus Dioscorea juga lebih adaptif terhadap perubahan iklim dibanding padi.

Namun kebijakan diversifikasi pangan kerap berhenti sebagai jargon.

Dunia Merawat, Jawa Melupakan

Ketika Jawa melupakan uwi, dunia justru merawatnya. Di Afrika Barat, uwi menjadi pangan pokok jutaan orang. Di Yunnan, China, uwi dibudidayakan turun-temurun sebagai pangan dan obat. Jepang dan Korea mengembangkannya sebagai pangan fungsional.

FAO mencatat Dioscorea sebagai komoditas strategis menghadapi krisis iklim global. Umbi ini tahan kekeringan dan tidak bergantung pada irigasi kompleks.

Kontras ini memunculkan satu pertanyaan: mengapa pangan yang ditinggalkan di tanah asalnya justru dirawat serius di tempat lain?

Ingatan yang Terhapus

Hilangnya uwi dari meja makan Jawa bukan sekadar perubahan selera. Ia adalah proses penghapusan ingatan.

Bersamaan dengan itu, lenyap pula pengetahuan menanam, menyimpan, dan mengolahnya. Di beberapa desa, uwi masih tumbuh liar—tidak lagi ditanam, hanya dibiarkan.

“Ini bukan sekadar soal pangan, tapi soal identitas,” kata Prof. Purwiyatno Hariyadi, Guru Besar IPB, dalam berbagai diskusi pangan lokal. Ketika masyarakat digiring bergantung pada satu sumber karbohidrat, ketahanan kolektif ikut dipertaruhkan.

Di tengah krisis iklim, impor beras, dan tekanan pangan global, ingatan “sebelum beras berkuasa” kembali relevan.

Ketahanan pangan Nusantara pernah berdiri di atas keragaman.

Revitalisasi uwi bukan romantisme masa lalu. Ia pilihan strategis ke depan.

Namun itu menuntut perubahan cara pandang pemerintah: dari pangan simbolik ke pangan ekologis.

Jika pemerintah sungguh berbicara tentang ketahanan pangan, uwi tidak boleh lagi menjadi catatan kaki sejarah.

Ia arsip hidup—tentang cara orang Jawa pernah bertahan tanpa bergantung pada satu butir nasi.***